Ustadz Abdurrahman Zahier Hafizhahullah
Sabtu, 8 Rajab 1447 H/ 28 Desember 2025
KONSEP REZEKI DALAM ISLAM
Nafkah, Pendapatan Halal,
Pekerjaan Halal, Keberkahan Harta
📘 RINGKASAN LENGKAP CERAMAH – PART 1Tema Besar: Hakikat Rezeki, Kekayaan Jiwa, dan Tawakal
I. Pembukaan & Landasan Aqidah
Ceramah dibuka dengan:
Ayat-ayat Surah Shad yang menegaskan:
Penolakan orang kafir terhadap kebenaran
Kesombongan manusia
Kekuasaan Allah atas langit dan bumi
Dilanjutkan dengan:
Pujian kepada Allah
Syahadat
Shalawat kepada Nabi ﷺ
Wasiat takwa
📌 Makna pembuka:
Rezeki, kekayaan, dan kehidupan dunia tidak bisa dilepaskan dari tauhid.
II. Kisah Abu Hazim: Kaya Tanpa Dunia
Abu Hazim hidup dalam kondisi:
Tidak punya penghasilan
Tidak punya harta
Tidak punya “passive income”
Namun:
Tidak meminta-minta
Hidup tenang
Tidak merasa kurang
Saat ditanya:
“Apa hartamu?”
Beliau menjawab:
Dua harta sejati:
Atsiqatu billah
→ Keyakinan penuh kepada apa yang Allah miliki & janjikan
Qana’ah
→ Tidak berhasrat terhadap apa yang dimiliki orang lain
📌 Pelajaran:
Banyak orang punya harta → tapi miskin jiwa
Sedikit harta + hati cukup → kaya sejati
III. Rezeki di Langit, Bukan di Manusia
Dalil:
“Wa fis-samā’i rizqukum wa mā tū‘adūn”
Maknanya:
Rezeki bukan di:
Atasan
Klien
Customer
Perusahaan
Tapi di langit, di tangan Allah
📌 Sejak memahami ayat ini:
Tidak takut masa depan
Tidak khawatir makan besok
Tidak iri pada kepunyaan orang lain
IV. Penyebab Merasa Miskin
Bukan karena kurang harta, tapi karena:
Berhasrat terhadap milik orang lain
Membandingkan hidup dengan orang lain
Terpengaruh flexing
Orang yang qana’ah:
Fokus pada nikmat yang Allah beri
Tidak sibuk memantau nikmat orang lain
V. Dua Jenis Rezeki
1️⃣ Rezeki Lahir
Uang
Rumah
Kendaraan
Fasilitas dunia
2️⃣ Rezeki Batin
Hati cukup
Tenang
Tidak iri
Ridha
📌 Orang yang cukup rezeki batinnya:
Tidak gelisah dengan rezeki lahir
Hidup lebih tenang
VI. Kekayaan Menurut Nabi ﷺ
Hadis:
“Laisal ghina ‘an katsratil ‘aradh, walakin al-ghina ghinal nafs”
Makna:
Kaya ≠ banyak aset
Kaya = cukupnya jiwa
📌 Kekayaan itu rasa, bukan angka.
VII. Perbedaan Pandangan Orang Berilmu & Awam
Contoh:
Bangunan mewah:
Awam → kagum
Ahli → cek kualitas
📌 Orang berilmu:
Melihat luar & dalam
Paham bahwa dunia sementara
📌 Orang awam:
Terpukau casing
Tidak memahami hakikat
VIII. Fenomena Qarun & Flexing
Qarun:
Pamer seluruh hartanya
Orang awam berkata:
“Andai kami seperti Qarun”
Orang berilmu berkata:
“Celaka kalian, pahala Allah lebih baik”
📌 Flexing:
Ada karena ada penontonnya
Selalu ada sejak dulu hingga sekarang
IX. Dunia Akan Menjadi Debu
Dalil:
Semua yang di bumi akan menjadi debu
Makna:
Kita → debu
Harta → debu
Bangunan → debu
📌 Maka orang berilmu memilih:
Pahala
Akhirat
Surga
X. Definisi Rezeki yang Benar
Rezeki ≠ apa yang kita miliki
Rezeki = apa yang kita manfaatkan
Hadis Nabi ﷺ:
Yang benar-benar rezeki:
Dimakan sampai habis
Dipakai sampai usang
Disedekahkan → kekal di akhirat
Selain itu → bukan rezeki sejati
XI. Rezeki Tertinggi Dunia
Menurut para salaf:
Rezeki dunia tertinggi = ma’rifatullah (mengenal Allah)
Ucapan salaf:
“Orang pencari dunia mati tanpa pernah merasakan kenikmatan sejati”
Karena:
Kenikmatan sejati = mengenal Allah
Dunia paling mewah pun tidak bisa menandingi itu
🔑 BENANG MERAH PART 1
Rezeki adalah urusan tauhid
Kaya itu soal hati
Dunia fana
Akhirat tujuan
Rezeki batin lebih menentukan kebahagiaan daripada rezeki lahir
📘 PART 2
Sesi Tanya Jawab: Rezeki, Ikhtiar, Takdir, Jodoh, dan Kehalalan Harta
❓ Pertanyaan 1
Bagaimana bentuk ikhtiar yang benar saat ekonomi terasa buntu (deadlock), sementara kebutuhan besar seperti biaya anak harus dipenuhi?
🔍 Jawaban Ustaz (Inti & Penjelasan)
Ketika manusia berada di titik buntu, kesalahan paling umum adalah:
Langsung mencari langkah teknis
Fokus ke strategi duniawi semata
Lupa mengetuk pintu Allah terlebih dahulu
📌 Teladan para Nabi dan Rasul
Mereka memiliki problem jauh lebih besar:
Urusan keluarga
Umat
Negara
Perang
Ekonomi
Sosial
Namun ketika masalah datang:
Mereka tidak langsung mencari solusi teknis, tapi sujud terlebih dahulu.
Rasulullah ﷺ:
Kepala negara
Mengurus ribuan sahabat
Ekspedisi militer rutin
Urusan keluarga sangat padat
➡️ Tapi solusi pertama beliau adalah shalat.
🔑 Prinsip Ikhtiar yang Benar
Ikhtiar harus maksimal
Jika Allah beri potensi 80 tapi usaha 70 → itu khianat
Jika potensi 90 tapi usaha 60 → itu khianat
📖 QS. At-Taghabun: 16
“Bertakwalah kepada Allah semaksimal kalian.”
Bukan minimal, tapi maksimal.
Doa adalah bagian dari ikhtiar
Banyak orang maksimal di teknis
Tapi minimal di doa
❗ Pertanyaan refleksi:
Sudahkah doa dimaksimalkan?
Doa saat hujan?
Doa orang tua?
Istighfar?
Amal sunnah harian?
Al-Kahfi di hari Jumat?
📌 Blind spot manusia
Sering:
Logika dimaksimalkan
Hubungan dengan Allah diabaikan
Tawakal setelah maksimal
Seperti Hajar di Safa–Marwah
Berlari sampai putaran terakhir
Baru Allah turunkan pertolongan
❓ Pertanyaan 2
Jika rezeki sudah ditetapkan, apakah bisa berubah? Bisakah meminta lebih dari yang “sudah ditentukan”?
🔍 Jawaban Ustaz
Hadis Nabi ﷺ:
“Tidak ada yang bisa mengubah takdir kecuali doa.”
📚 Tingkatan Takdir
Lauhul Mahfuz → tidak berubah
Takdir umur
Takdir tahunan
Takdir harian
➡️ Yang bisa berubah: umur, tahunan, harian
➡️ Tapi perubahan itu sudah tercatat di Lauhul Mahfuz
📌 Artinya:
Kita boleh meminta takdir baik
Karena permintaan itu sendiri sudah ditulis Allah
🤲 Teladan Umar bin Khattab
Doa Umar:
“Jika Engkau catat aku sebagai ahli neraka, hapuskan dan jadikan aku ahli surga.”
➡️ Selama belum mati, takdir masa depan masih bisa dimohonkan.
📌 Catatan penting:
Masa lalu tidak bisa diubah
Masa depan masih wilayah doa
🧠 Perspektif Salaf
“Jika doaku dikabulkan, aku bahagia sekali.
Jika tidak dikabulkan, aku bahagia sepuluh kali.”
Kenapa?
Dikabulkan → pilihanku
Tidak dikabulkan → pilihan Allah (lebih baik)
📌 Tidak ada:
Good vs Bad
Yang ada:
Good → Better → Best
❓ Pertanyaan 3
Bagaimana menjaga tauhid hati agar kebahagiaan tidak digantungkan pada jodoh? Dan bagaimana sikap saat rezeki terasa sempit?
🔍 Jawaban Ustaz
Mencari jodoh adalah ikhtiar syar’i, baik bagi:
Laki-laki
Perempuan
🌸 Teladan Khadijah radhiyallahu ‘anha
Beliau:
Tertarik karena akhlak Rasulullah ﷺ
Tidak tergesa
Memverifikasi karakter:
Diberi amanah uang
Dikirim safar
Dilihat akhlaknya dalam waktu lama
➡️ Setelah yakin, menyampaikan lamaran dengan cara elegan, lewat perantara (Nafisah).
📌 Pelajaran:
Ikhtiar boleh
Tapi tetap menjaga adab & tauhid
📖 Kisah Ibnu Aqil Al-Hambali
Menemukan kalung berlian
Mengumumkan setahun
Menolak imbalan
Bertahun kemudian:
Terjebak di pulau
Jadi marbot
Menikah
Kalung itu ternyata milik ayah istrinya
Ayahnya dulu berdoa: “Ya Allah, jodohkan anakku dengan orang sejujur ini.”
➡️ Doa bekerja lintas waktu & tempat.
📌 Jangan remehkan doa.
📖 Kisah Nabi Musa di Madyan
Tidak “kebetulan” sampai di Madyan
Allah jaga jodoh dari lingkungan rusak
Allah datangkan jodoh lewat takdir yang tampak rumit
➡️ Semua diatur oleh Allah dengan presisi.
❓ Pertanyaan 4
Resign dari pekerjaan syubhat, tapi yang datang justru tawaran haram. Apakah ini ujian?
🔍 Jawaban Ustaz
Benar. Ini ujian kesabaran.
📖 Kisah Ka’ab bin Malik:
Diboi kot 50 hari
Bahkan istrinya tidak bicara
Dapat tawaran dari Raja Ghassan:
Kemewahan
Kedudukan
Tapi artinya murtad
➡️ Apa yang beliau lakukan?
Membakar surat tersebut.
📌 Allah uji hamba sampai titik terakhir.
⚠️ Tentang Rezeki Haram
1 rupiah haram bisa merusak rumah tangga
Harta haram:
Menggelapkan hati
Merusak anak
Menghancurkan keberkahan
📌 Kata Fudhail bin Iyadh:
“Aku tahu dosaku dari perubahan sikap istriku, anakku, bahkan hewan tungganganku.”
➡️ Jika hidup terasa sempit:
Evaluasi makanan
Evaluasi sumber rezeki
📌 Sedikit halal = berkah 📌 Banyak haram = kehancuran
🔑 BENANG MERAH PART 2
Ikhtiar ≠ teknis saja
Doa adalah senjata utama
Takdir bisa dimohonkan sebelum terjadi
Jodoh dan rezeki Allah atur dengan presisi
Rezeki halal menentukan surga atau neraka
Kesabaran diuji sampai titik akhir
Catatan kajian ini dengan transcript youtube
