Al Khulasoh Al Asasiyyah Fii Masaail Al I’tiqodiyyah # Apa makna لا إله إلَّا اللَّهُ? - P6
Kelas
Khulasoh Al Asasiyyah Fii Maasai Al I'tiqodiyyah pertemuan ke-6 halaman 11-12 Ustadzah Aditya Putri حفظها الله تعالى |
Rukun pertama:
لا إله إلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
# Apa makna لا إله إلَّا اللَّهُ?
Makna لا إله إلَّا اللَّهُ: tidak ada illah sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar baik itu di dunia dan di langit kecuali Allah dan tidak ada sekutu baginya. Dan allahlah sesembahan yang benar, selain Allah tidak berhak diibadi, disembah, sesembahaan selain Allah adalah batil.
· Kenapa ada kata dengan benar? Karena berarti ada manusia yang menyembah dengan tidak benar.
· Dengan benar: dengan yang Allah inginkan, sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu alaihi wasalam
· Jika maknanya tidak ada tuhan selain Allah maka ini keliru. Karena salah satu contohnya kau Quraisy yang meyakini adanya Allah yang menciptakan Bumi dan lain-lain namun, mereka juga meyakini adanya sekutu Allah.
· Tidak ada sekutu baginya
الإِلَهُ مَعْنَاهُ: الْمَعْبُودُ
Makna ilah adalah: yang disembah
#Apa rukun لا إله إلَّا اللَّهُ? (yang harus diamalkan dan diyakini)
Ada 2 Rukun La ilaha illallah
1. لا إله
Rukun pertama adalah النفي Menafikan: Meniadakan sesembahan selain Allah ta'ala dari seluruh mahluk.
(Tuhan-tuhan itu banyak, tapi tidak berhak untuk di sembah selain Allah)
2. إلَّا اللَّهُ
Rukun kedua adalah الْإِثْبَاتُ Isbat: Menetapkan sesembahan hanya Allah saja.
(Hanya Allah, Tuhan yang berhak untuk disembah)
Dalilnya:
QS Al-Hajj : 62
ذٰلِكَ بِأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِن دُونِهِۦ هُوَ ٱلْبَـٰطِلُ وَأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلْعَلِىُّ ٱلْكَبِيرُ
Demikianlah (kebesaran Allah) karena Allah, Dialah (Tuhan) Yang Hak. Dan apa saja yang mereka seru selain Dia, itulah yang batil, dan sungguh Allah, Dialah Yang Maha Tinggi, Maha Besar.
# Apa syarat لا إله إلَّا اللَّهُ?
Syarat لا إله إلَّا اللَّهُ ada tujuh yaitu:
1. Mengilmui maknanya dalam penafian serata dalam penetapan. Barang siapa yang mengucapkan kalimat tersebut, namun ia tidak paham dari tuntutan kalimat tersebut, sesungguhnya apa yang dia ucapkan tidak ada manfaatnya (di akhirat. Karena ia tidak meyakini apa yang dimaksud dari kalimat tersebut, seperti orang yang berkata dengan suatu Bahasa namun ia tidak paham). (Prinsip seseorang berpendapat bahwa yang penting ia sudah beragama islam, yang penting ia tidak merugikan orang lain, padahal dengan mereka tidak belajar, tidak menuntut ilmu mereka banya merugikan orang lain).
Dalilnya: QS Muhammad : 19
فَٱعْلَمْ أَنَّهُۥ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ
Maka ketahuilah, bahwa tidak ada Tuhan (yang patut disembah) selain Allah,
2. Yakin x Ragu-ragu
Yakin: benar-benar meyakini bukan sekedar mengilmui. Yang dengan kita mengilmuinya dengan semestinya sehingga bisa mengangkat keragu-raguan. Jika hanya mengikrarkan saja namun masih ragu-ragu maka dia kosong, kalimat yang ia ucapkan tidak bermanfaat di akhirat.
Dalilnya:
QS Al-Hujurat : 15
إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَـٰهَدُوا بِأَمْوٰلِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ ۚ أُولَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلصَّـٰدِقُونَ
Sesungguhnya orang-orang mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu, dan mereka berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.
3. Ikhlas x Syirik
Keihklasan yang menafikkan kesyirikan. Ketika kita sudah berikrar bahwa لا إله إلَّا اللَّهُ maka konsekuensinya adalah meniadakan sekutu bagi Allah. Inilah yang diinginkan dari لا إله إلَّا اللَّهُ (tauhid).
Abu Hurairah pernah bertanya kepada Nabi :
يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling bahagia dengan mendapatkan syafa’at baginda ?“. Beliau menjawab :
أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ أَوْ نَفْسِهِ
“Orang yang paling bahagia dengan mendapatkan syafa’atku pada hari kiamat adalah orang yang orang yang mengatakan Laa ilaaha illallah secara ikhlas (murni) dari kalbunya“. HR. Bukhori
Referensi : alminhaj
4. Jujur x kemunafikan
Pembenaran yang meniadakan kemunafikan karena sesunggunya orang-orang munafik mengikrarkan dengan lisan mereka dan tidak meyakinin konsekuesi dari لا إله إلَّا اللَّهُ maka tempat mereka di kerak neraka. Mereka mengucapkan hanya dengan lisan tetapi ia tidak yakin dalam apa yang ia ucapkan.
Dalilnya:
QS Al-Baqarah : 8
وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَقُولُ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَبِٱلْيَوْمِ ٱلْـَٔاخِرِ وَمَا هُم بِمُؤْمِنِينَ
Dan di antara manusia ada yang berkata, "Kami beriman kepada Allah dan hari akhir," padahal sesungguhnya mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman.
QS Al-Baqarah : 9
يُخَـٰدِعُونَ ٱللَّهَ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّآ أَنفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ
Mereka menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanyalah menipu diri sendiri tanpa mereka sadari.
QS Al-Baqarah : 10
فِى قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَهُمُ ٱللَّهُ مَرَضًا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌۢ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ
Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya itu; dan mereka mendapat azab yang pedih karena mereka berdusta.
5. Cinta x Benci
Mencintai dengan tulus kalimat لا إله إلَّا اللَّهُ dan mencintai semua dalam kalimat لا إله إلَّا اللَّهُ dan senang tidak ada paksaan. Berbeda denga orang munafik, mereka hanya mengucapkan di hatinya kufur terhadap islam.
Dalilnya:
QS Al-Baqarah : 165
وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَندَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ ٱللَّهِ ۖ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا أَشَدُّ حُبًّا لِّلَّهِ ۗ وَلَوْ يَرَى ٱلَّذِينَ ظَلَمُوٓا إِذْ يَرَوْنَ ٱلْعَذَابَ أَنَّ ٱلْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعَذَابِ
Dan di antara manusia ada orang yang menyembah tuhan selain Allah sebagai tandingan yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah. Sekiranya orang-orang yang berbuat zalim itu melihat, ketika mereka melihat azab (pada hari Kiamat), bahwa kekuatan itu semuanya milik Allah dan bahwa Allah sangat berat azab-Nya (niscaya mereka menyesal).
6. Tunduk (Patuh) x Membangkang
Patuh dalam mengerjakan hak-hak لا إله إلَّا اللَّهُ adalah dengan mengamalkan semua amalan yang diwajibkan Allah taaala ikhlas hanya untuk Alllah bukan untuk yang lain. Kita diperbolehkan mengharap ridha Allah.
Dalilnya:
QS Luqman : 22
۞ وَمَن يُسْلِمْ وَجْهَهُۥٓ إِلَى ٱللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ ٱسْتَمْسَكَ بِٱلْعُرْوَةِ ٱلْوُثْقَىٰ ۗ وَإِلَى ٱللَّهِ عَـٰقِبَةُ ٱلْأُمُورِ
Dan barang siapa berserah diri kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya dia telah berpegang kepada buhul (tali) yang kukuh. Hanya kepada Allah kesudahan segala urusan.
7. Menerima x Menolak
Menerima adalah ketika tunduk (patuh) terhadap perintah-perintah Allah dan maningglkan larangan-larangan Allah.
Dalilnya:
QS As-Saffat : 35
إِنَّهُمْ كَانُوٓا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ
Sungguh, dahulu apabila dikatakan kepada mereka, "La ilaha illallah" (Tidak ada tuhan selain Allah), mereka menyombongkan diri,
QS As-Saffat : 36
وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُوٓا ءَالِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَّجْنُونٍ
dan mereka berkata, "Apakah kami harus meninggalkan sesembahan kami karena seorang penyair gila?"

0 Comments