Al Khulasoh Al Asasiyyah Fii Masaail Al I’tiqodiyyah #Apa syarat-syarat diterimanya ibadah? - P4

 

Aqidah Dasar

Ustadzah Aditya Putri

Senin, 9 September 2024

Halaman 5 dan 6

QS Al-Isra' : 57

أُولَـٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ ٱلْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُۥ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُۥٓ  ۚ  إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا

Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah). Mereka mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya. Sungguh, azab Tuhanmu itu sesuatu yang (harus) ditakuti."

Tidak boleh seorang mukmin itu hanya mengandalkan rasa takut saja

sehingga ia menjadai putus asa dari rahmat Allah. juga ia tidak boleh bergantung pada harapan saja sehingga ia merasa aman dari azab Allah. seorang mukmin sudah sepatutnya berharap dan takut pada Allah. Takut dari adzabnya Allah sehingga ia meninggalkan kemaksiatan dan menjauhi kemaksiatan. berharap mpada rahmatnya Allah, sehingga ia melakukan ketaatan kepada Allah.

ketika rasa takut dan rasa harap bergabung menjadi satu, maka ini mendorong seorang hamba untuk beramal, melakukan hal-hal yang bermanfaat dengan penuh pengharapan dia beramal shalih dan berharap pahala. Dan dengan rasa takut, ia meninggalkan doasa-dosa karena takut akan siksaan Allah.

adapun ketika dia berputus asa dari rahmat Allah maka dia akanm berhenti melakukan amal shalih. dan ketika dia merasa aman dari azab allah dan hukuman allah maka dia akan terjerumus melakukan kemaksiatan.

#Apa syarat-syarat diterimanya ibadah?

sesungguhnya ibadah itu tidak akan diterima kecuali dengan dua syarat.

1. Ikhlas karena Allah Azza wa jalla

QS Al-Bayyinah : 5

وَمَآ أُمِرُوٓا إِلَّا لِيَعْبُدُوا ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُوا ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُوا ٱلزَّكَوٰةَ  ۚ  وَذٰلِكَ دِينُ ٱلْقَيِّمَةِ

Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah, dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan sholat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).

2. Mencontoh, mengikuti Rasullullah Shallallahu Alahi wa sallam.

dan sesungguhnya Allah tidak akan menerima suatu amalan kecuali dengan mengikuti dengan betul-beatul cara rasulullah.

QS Al-Hasyr : 7

  ۚ  وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمْ عَنْهُ فَٱنتَهُوا  ۚ  .....

.... Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. .....

dalil lainnya Dari Ummahatul mukminin, Aisyah Radiyallahu anha bahwa sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam

وقال النبي صلى الله عليه وسلّم: «مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدُّ

barang siapa yang beramal dan amalan tersebuut bukan dari kami (cara nabi) maka amalan tersebut tertolak. HR. Bukhari dan Muslim

dalil mencakup ikhlas dan ittiba

QS Al-Kahf : 110

فَمَن كَانَ يَرْجُوا لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَـٰلِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدًا

" Maka barang siapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya, maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia menyekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya.

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, “Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh”, maksudnya adalah mencocoki syariat Allah (mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen). Dan “janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”, maksudnya selalu mengharap wajah Allah semata dan tidak berbuat syirik pada-Nya. Inilah dua rukun diterimanya ibadah, yaitu harus ikhlas karena Allah dan mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 9/205, Muassasah Qurthubah. (rumaysho.com)

dalil lainnya

Dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim) [HR. Bukhari, no. 1 dan Muslim, no. 1907] (rumaysho.com)

0 Comments