Al Khulasoh Al Asasiyyah Fii Masaail Al I’tiqodiyyah #Apa bedanya mendirikan shalat dan mengerjakan shalat? - P10
Aqidah Dasar
Ustadzah Aditya Putri Hafizahallah
Senin, 25 November 2024
Halaman 17 dan 18
Faedah dari kata mendirikan shalat:
Ketika shalat seseorang tidak hanya mengerjakan shalat namun mendirikan shalat.
Di dalam surat Ibrahim ayat 40 Allah ta'ala berfirman:
رَبِّ ٱجْعَلْنِى مُقِيمَ ٱلصَّلَوٰةِ وَمِن ذُرِّيَّتِى ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَآءِ
Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan sholat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.
#Apa bedanya mendirikan shalat dan mengerjakan shalat?
● Mendirikan shalat dalam tafsir Imam Assa'di, beliau mengatakan bahwa doa yang dipanjatkan Nabi Ibrahim Alaihisalam kepada Allah, berisi permohonan kepada Allah agar keturunan beliau alaihi salam sampai akhir zaman sebagai orang-orang yang mendirikan shalat.
● Di dalam tafsir Al-muyassar yang dimaksud orang-orang yang mendirikan shalat itu adalah orang yang mengerjakan shalat dengan sempurna.
● Di dalam tafsir Ibnu Katsir maksud dari mendirikan shalat adalah memelihara shalat.
● penjelasan para ulama bahwa mendirikan shalat adalah mengerjakan shalat dan memelihara shalatnya.
Dari kata agama- yuqimu artinya adalah kira harus mendirikan shalat dengan memperhatikan.
Apa yang diperhatikan?
• adab-adab
• rukun-rukun
• kewajiban-kewajiban
• syarat sah shalat
• sunnah-sunnah dalam shalat
• setelah salam
Para ulama mengatakan bahwa ketika seseorang mengerjakan shalat tetapi shalat tersebut tidak menjadikan tameng bagi dia untuk menangkal perbuatan keji dan mungkar berarti dia beluk mendirikan shalat.
Kenapa demikian?
Karena shalatnya tidak berdiri yaitu dua tidak memperhatikan Adab-adabnya meskipun shalatnya sudah selesai dengan salam.
Apakah jika demikian maka seseorang dengan mudah untuk tidak shalat?
Tentu tidak demikian. Karena, shalat seseorang yang melakukan shalat saja masih melakukan perbuatan keji dan mungkar apa lagi jika tidak shalat.
Jika ada yang mengatakan percuma shalat tetapi perbuatan orang tersebut masih "sama" (masih buruk). Namun, tidak ada yang sia-sia dari suatu usaha seorang hamba dalam peribadahan, semuanya memiliki perhitungan kelak. Semua akan mendapatkan ganjaran kelak. Justru seseorang hamba harus semakin semangat (dalam berbahadah).
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
Semua bani Adam sering melakukan kesalahan dan sebaik-baik orang yang sering melakukan kesalahan adalah yang sering bertaubat.
[HR. Ibnu Majah, at-Tirmidzi dan lain-lain. Hadits ini hasan, menurut syaikh al-Albani rahimahullah]
alminhaj.or.id
Jika ada yang mengatakan orang-orang yang telah melakukan kekeliruan, kesalahan, kemudian dia melakukan kebaikan, lalu ada yang mengatakan dia munafik maka ini tidak benar. Kita tidak boleh menjudge karena yang berhak menilai hanya Allah. Bisa jadi setelah dia diolok-olok ia bertaubat. Bagaimana dengan kita? (Koreksi diri kita sendiri)
# Kapan diwajibkannya shalat?
Shalat itu diwajibkan pada malam isra miraj satu setengah tahun sebelum hijrah (tafsir ibnu Katsir)
(Ketika Rasulullah shallallahu alaihi masih tinggal di Mekkah sebelum hijrah (ke Madinah)) dan dijelaskan waktunya keesokan harinya.
Perintah shalat Ditahun ke-11 kenabian
(Tahun kenabian 13 tahun sebelum hijrah)
#Apa maksud dari mendirikan shalat?
Maksud dari mendirikan shalat adalah mengerjakan di waktu Shalat, sungguh-sungguh dalam berwudhu dan menyempurnakan rukuk dan sujud, kemudian menjaga bacaan shalat (makhraj dan sifat) dan kekhusyuan shalat.
# Apa hukum meninggalkan Shalat?
Terbagi 2
1. Barang siapa yang meninggal shalat sementara dia, balig, waras (berakal), islam, tidak bodoh, beranggapan bahwa shalat tidak wajib sehingga ia meninggalkan shalat maka dia kafir maka ia telah keluar dari agama ini.
2. Siapa yang meninggalkan shalat karena dia malas/ menyebalkan maka hukumnya termasuk dosa besar namun ia tidak keluar dari Islam.
Ini adalah pendapat Ibnu Qudamah.
Namun perlu berhati-hati bahwa bisa jadi karena sering menyepelekan maka ia bisa keluar dari islam.
Dalilnya:
QS Maryam : 59
۞ فَخَلَفَ مِن بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا ٱلصَّلَوٰةَ وَٱتَّبَعُوا ٱلشَّهَوٰتِ ۖ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا
Kemudian datanglah setelah mereka, pengganti yang mengabaikan sholat dan mengikuti keinginannya(hawa nafsu), maka mereka kelak akan tersesat,
QS Maryam : 60
إِلَّا مَن تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ صَـٰلِحًا فَأُولَـٰٓئِكَ يَدْخُلُونَ ٱلْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ شَيْـًٔا
kecuali orang yang bertobat, beriman, dan mengerjakan kebajikan, maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dizalimi (dirugikan) sedikit pun,
Kisah perihal shalat
Pada awalnya, Allah memerintahkan lima puluh kali sholat dalam sehari semalam. Nabi menerima perintah tersebut dengan ridho dan legowo. Sampailah ketika beliau melewati langit keenam, beliau bertemu dengan Nabi Musa ‘alahissalam. Musa bertanya kepada Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, “Apa yang Allah perintahkan padamu?”
“Aku diperintahkan untuk melaksanakan lima puluh kali sholat salam sehari semalam” Jawab Nabi.
“Umatmu tak kan mampu, “kata Nabi Musa, “melakukan lima puluh kali sholat setiap hari. Karena saya telah mencobanya pada umat sebelum umatmu. Dan aku telah membina Bani Israil dengan susah payah. Kembalilah kepada Tuhanmu. Mintalah keringanan untuk umatmu.”
“Akupun kembali meminta kepada Rabb-ku. Lantas Allah menguranginya sepuluh sholat (sehingga sisa 40 sholat). Lalu aku bertemu Musa kembali. Namun beliau menyarankan seperti yang beliau sarankan sebelumnya”, terang Nabi shallallahu’alaihi wa sallam.
Begitu terus kejadiannya. Sampai Allah ‘azza wajalla memberi keringanan cukup melakukan lima kali sholat dalam sehari semalam. Namun Nabi Musa tetap menyarankan beliau untuk minta keringanan, seperti saran beliau pertama.
Hanya saja Nabi malu untuk meminta keringanan kembali kepada Allah ‘azza wajalla.
سَأَلْتُ رَبِّي حَتَّى اسْتَحْيَيْتُ وَلَكِنِّي أَرْضَى وَأُسَلِّمُ قَالَ فَلَمَّا جَاوَزْتُ نَادَى مُنَادٍ أَمْضَيْتُ فَرِيضَتِي وَخَفَّفْتُ عَنْ عِبَادِي
“Aku telah berulang kali memohon keringanan kepada Rabb-ku, sampai aku merasa malu. Tetapi aku ridho dan menerima perintah tersebut“.
Beliau shallallahu’alaihi wa sallam melanjutkan, “Setelah aku melewati Musa, terdengarlah suara seruan : Telah Kusampaikan kewajiban (kalian) atasKu, dan Aku berikan keringanan untuk hamba-hambaKu“[4. HR. Bukhari (3887), dan Ahmad (17835)].
Allah berfirman,
يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُخَفِّفَ عَنْكُمْ ۚ وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا
“Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah” (QS. An Nisa: 28).
Ada pelajaran bagus yang bisa kita petik dari kisah ini.
● Sebuah keteladan dari Nabi kita yang mulia shallallahu’alaihi wa sallam. Berupa sikap lapang dada menerima masukan orang lain. Menjadi pendengar yang baik saat berinteraksi dengan saudaranya. Serta berkonsultasi kepada yang lebih tahu dan berpengalaman pada bidangnya.
● Hadist ini menunjukkan agungnya kedudukan sholat lima waktu di sisi Allah. Dimana saat Allah mensyariatkannya pada umat ini, Allah langsung memanggil RasulNya dan berbicara langsung kepada RasulNya perihal perintah sholat ini, tanpa melalui perantara malaikat Jibril.
●Peristiwa mulia ini terjadi di malam hari. Untuk mengingatkan bahwa malam hari adalah waktu yang cocok untuk berkholwat dengan Rabbul ‘alamin. Saat-saat sunyi dan tenang, untuk mengingat asma dan keagunganNya. Menangisi dosa dan kekurangan kita. Beribadah dalam kesunyian, mengungkapkan keutuhan pemghambaan.
● Nabi shallallahu alaihiwasallam adalah juga meneladankan kepada kita untuk merasa malu kepada Allah. Malu dalam bermuamalah kepada Allah. Seperti malu karena kekurangan kita dalam ibadah. Juga kita merasa malu karena dosa kita yang bergelimang, sementara karunia dan kasihsayangNya terus mengalir untuk kita.
Muslim.or id
Allahu a'lam.

0 Comments