Aqidah dan Adab Penuntut Ilmu - P11

 

📅 Waktu Pembelajaran: Setiap Hari Kamis

🕙 Pukul: 11:00 WIB

👑Pengajar: Ustadzah Ika Yuniarti, Lc

📖 Resume Aqidah dan Adab Penuntut Ilmu

📝 Note by ChatGPT

Catatan Kajian: Kemuliaan Ilmu, Anugerah Akal, dan Perumpamaan Ulama

1. Perkataan Ali radhiyallahu ‘anhu

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa kemuliaan (syaraf) datang dari ilmu, sedangkan kebodohan (jahl) adalah sumber celaan dan kehinaan (zammun). Ini menjadi dalil penting bahwa dasar kemuliaan seorang hamba di sisi Allah adalah ilmunya, bukan harta, nasab, atau status sosial.

Mungkin secara zahir kita lihat ada orang yang tanpa ilmu pun tetap dihormati karena keturunan bangsawan atau kekayaan yang diwarisi (old money). Namun itu hanyalah kemuliaan duniawi yang sementara. Adapun kemuliaan hakiki adalah kemuliaan ukhrawi, yaitu kedudukan di hadapan Allah Ta’ala, yang hanya bisa dicapai dengan ilmu.

Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam QS. Al-Mujadilah ayat 11:

“Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”

Ayat ini menegaskan janji Allah bahwa orang berilmu akan diangkat derajatnya, baik di dunia (dihormati manusia, diikuti ucapannya, diberi kedudukan) maupun di akhirat (diberikan kemuliaan yang agung di sisi Allah).

2. Perkataan sebagian salaf

Sebagian salaf mengatakan:

“Sebaik-baik mawahib (anugerah Allah) adalah akal.”

Mawahib berarti anugerah atau karunia yang Allah berikan kepada hamba-Nya, seperti keturunan, pasangan, orang tua yang shalih, kesehatan, waktu luang, atau rezeki yang lapang. Namun dari sekian banyak anugerah, yang paling mulia adalah akal.

Dengan akal, manusia dapat membedakan yang baik dan yang buruk, yang hak dan yang batil, sunnah dan bid‘ah. Akal adalah alat untuk memahami agama. Namun, tidak semua orang yang berakal mau menerima kebenaran. Ada yang paham tapi menolak karena hawa nafsu, lingkungan, atau kesombongan.

Di sinilah kita pahami bahwa akal saja tidak cukup. Diperlukan taufik dari Allah agar akal itu condong kepada kebenaran. Orang yang tidak mendapat taufik bisa jadi pintar, tapi tetap menolak agama. Maka hidayah harus diusahakan: menghadiri majelis ilmu, memilih lingkungan yang baik, dan berdoa agar Allah bukakan hati.

Sebaliknya, kebodohan (jahl) adalah musibah terbesar. Dengan kebodohan, seseorang tidak tahu kewajiban dan larangan, tidak bisa membedakan halal dan haram, sehingga terjerumus dalam kesesatan.

3. Perkataan Abu Muslim al-Khaulani

Abu Muslim al-Khaulani memberikan perumpamaan ulama dan ahlul ‘ilmi sebagai bintang di langit.

  • Fungsi bintang dalam syariat:

    1. Ziinah (hiasan langit): Allah menjadikan bintang sebagai perhiasan di langit dunia.

    2. Alamat (petunjuk arah): digunakan oleh para musafir dan pelaut untuk menunjukkan arah. Namun hanya orang yang ahli yang bisa memahaminya.

    3. Rujum (lemparan bagi syaitan): bintang dipakai sebagai pelempar syaitan yang mencuri berita langit.

Begitu pula ulama dan orang berilmu:

  • Mereka menjadi hiasan umat dengan ilmunya.

  • Mereka menjadi petunjuk jalan kebenaran bagi manusia, seperti bintang yang memberi arah.

  • Mereka juga pelindung umat dari syubhat dan tipu daya syaitan, dengan hujjah dan ilmu yang mereka ajarkan.

Tanpa ulama, manusia akan tersesat, bingung, dan mudah terperangkap dalam kebatilan. Maka perumpamaan ini sangat indah, menunjukkan betapa agungnya kedudukan ulama dan pentingnya kita merujuk kepada mereka.


Kesimpulan

  • Ilmu adalah dasar kemuliaan seorang hamba di sisi Allah, bukan harta atau nasab.

  • Akal adalah anugerah terbesar, tapi butuh taufik agar bisa menerima kebenaran.

  • Ulama seperti bintang, yang menjadi hiasan, petunjuk, dan pelindung bagi umat.

Karena itu, kewajiban kita adalah menuntut ilmu, memuliakan akal dengan ketaatan, dan mengikuti ulama. Dengan itu Allah akan angkat derajat kita di dunia dan akhirat.

0 Comments