Aqidah dan Adab Penuntut Ilmu - P14

 

 

📅 Waktu Pembelajaran: Setiap Hari Kamis

🕙 Pukul: 11:00 WIB

👑Pengajar: Ustadzah Ika Yuniarti, Lc

📖 Resume Aqidah dan Adab Penuntut Ilmu

📝 Note by ChatGPT

Resume Kajian: Kaidah Ketiga dalam Al-Qawā‘idul Arba‘

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab

Pendahuluan

  • Pertemuan kali ini membahas kaidah ketiga, setelah sebelumnya selesai ujian tengah semester dan kaidah kedua.

  • Inti pembahasan: kesyirikan dalam berbagai bentuk sesembahan hukumnya sama di sisi Allah.


Matan Kaidah Ketiga

“Bahwasanya Nabi ﷺ memerangi orang-orang yang menyembah selain Allah dengan bermacam-macam bentuk peribadatan. Ada yang menyembah malaikat, para nabi dan orang-orang shalih, ada pula yang menyembah bebatuan, pepohonan, matahari, dan bulan. Rasulullah ﷺ memerangi mereka tanpa pandang bulu.”

Dalil:
QS. Al-Anfāl: 39 dan QS. Al-Baqarah: 193

“Dan perangilah mereka hingga tidak ada lagi fitnah (kesyirikan), dan agama itu hanya milik Allah semata.”


Penjelasan (Syarah) Kaidah

  1. Keragaman Sesembahan Kaum Musyrik:

    • Ada yang menyembah malaikat.

    • Ada yang beribadah kepada para nabi dan orang shalih.

    • Ada yang mengagungkan pepohonan dan bebatuan.

    • Ada yang menyembah matahari dan bulan.

  2. Kesamaan Derajat Syirik:

    • Meski berbeda objek sesembahan, semuanya sama di sisi Allah: syirik akbar.

    • Tidak ada istilah syirik “lebih ringan” hanya karena sesembahan itu makhluk mulia (misalnya malaikat atau nabi).

    • Semua yang menjadikan selain Allah sebagai tempat ibadah → keluar dari Islam, amalan terhapus, dan kekal di neraka bila mati di atasnya.

  3. Syirik dan Kezaliman Terbesar:

    • Syirik disebut sebagai “zulmun ‘azhim” (kezaliman paling besar).

    • Zalim = menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya.

    • Menyembahkan ibadah kepada selain Allah = merampas hak Allah sebagai satu-satunya Dzat yang berhak diibadahi.

  4. Syirik Akbar vs Syirik Asghar:

    • Syirik Akbar: nyata-nyata menyembah selain Allah (contoh: sujud, doa, nadzar untuk berhala, matahari, wali).

    • Syirik Asghar: tersembunyi dan halus, seperti riya. Tidak sampai mengeluarkan dari Islam, tetapi tetap berbahaya karena merusak amal.


Hikmah Perintah Memerangi Syirik

  • Tujuan jihad Nabi ﷺ: membersihkan bumi dari semua bentuk kesyirikan tanpa terkecuali.

  • Agar tidak terjadi fitnah:

    • Fitnah = munculnya persepsi salah bahwa syirik itu boleh.

    • Jika orang berilmu diam melihat kesyirikan, masyarakat bisa mengira bahwa perbuatan tersebut sah.

  • Dengan diperangi → syirik hilang, agama Allah tetap murni, ibadah hanya untuk Allah semata.


Relevansi Zaman Sekarang

  • Syirik masih terjadi, meski bentuknya berbeda: ritual adat, perayaan yang bercampur dengan kesyirikan, meminta kepada wali, atau percaya benda keramat.

  • Sikap seorang Muslim:

    • Harus menjelaskan bila punya ilmu dan kapasitas.

    • Diam bisa menimbulkan fitnah, seakan-akan syirik atau bid’ah tersebut boleh.

    • Amar ma’ruf nahi munkar menjadi kewajiban sesuai kemampuan.


Kesimpulan Kaidah Ketiga

  1. Semua bentuk kesyirikan sama hukumnya: syirik akbar.

  2. Perbedaan sesembahan tidak mengubah derajat hukum → semuanya batil.

  3. Pelaku syirik akbar keluar dari Islam, amal terhapus, dan kekal di neraka bila mati tanpa taubat.

  4. Hikmah memerangi syirik: menjaga kemurnian agama agar ibadah hanya untuk Allah semata.

    Bahaya Ghuluw (Berlebih-lebihan dalam Agama)

    1. Definisi Ghuluw

  5. Ghuluw adalah sikap berlebih-lebihan, melampaui batas yang ditentukan syariat.

  6. Ia bisa terjadi dalam keyakinan, ucapan, maupun perbuatan.

  7. Ghuluw merupakan pintu menuju penyimpangan bahkan kesyirikan.

2. Dalil Larangan Ghuluw

  • Al-Māidah: 77

“Wahai Ahlul Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan dengan cara yang tidak benar dalam agamamu...”

  • An-Nisā: 171

“Wahai Ahlul Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu dan janganlah berkata terhadap Allah kecuali yang benar...”

  • Hadis Ibnu Abbas: Rasulullah ﷺ bersabda, “Jauhilah sikap ghuluw, karena sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa akibat ghuluw.” (HR. Ahmad dan Nasa’i).

3. Bahaya Ghuluw

  • Ghuluw adalah penyakit turun-temurun sejak zaman Nabi Nuh.
    Kaumnya terjerumus ke dalam syirik karena berlebihan mengagungkan orang-orang saleh hingga akhirnya membuat patung dan menyembahnya.

  • Ghuluw sering bercampur dengan hawa nafsu dan tradisi, sehingga sulit dibedakan dengan syariat.

  • Menjadi senjata setan untuk menjerumuskan manusia dari tauhid menuju kesyirikan.

4. Bentuk-Bentuk Ghuluw

  1. Dalam Keyakinan (I‘tiqad)

    • Menganggap malaikat sebagai anak-anak Allah.

    • Mengangkat Rasulullah ﷺ atau wali tertentu ke derajat ilah (disembah).

    • Meyakini wali atau orang saleh itu maksum (bebas dari dosa).

    • Meminta doa, keberkahan, atau pertolongan kepada orang yang sudah meninggal.

  2. Dalam Ucapan

    • Pujian berlebihan kepada Rasulullah ﷺ atau manusia tertentu.

    • Menambah lafaz-lafaz dalam doa/selawat yang tidak disyariatkan.

    • Memberikan gelar berlebihan, padahal Rasulullah sendiri menolak disebut Sayyid (tuan).

  3. Dalam Perbuatan

    • Ibadah yang melampaui batas syariat, seperti puasa terus-menerus tanpa henti.

    • Padahal syariat sudah menetapkan bentuk ibadah yang paling sempurna, misalnya puasa sunnah terbaik adalah puasa Daud (sehari puasa, sehari berbuka).

5. Kiat Menghindari Ghuluw

  1. Menuntut Ilmu Syari

    • Kebodohan adalah akar ghuluw.

    • Dengan ilmu, kita tahu batasan yang benar dalam ibadah, ucapan, dan keyakinan.

    • Hadiri majelis ilmu, membaca kitab, dan bertanya kepada ahlinya.

  2. Memilih Lingkungan yang Baik

    • Bergaul dengan orang-orang yang lurus aqidahnya, cinta Al-Qur’an dan Sunnah.

    • Lingkungan yang sehat membantu kita istiqamah dan tidak terpengaruh tradisi salah.

  3. Menjauhi Taklid Buta

    • Jangan ikut-ikutan hanya karena kebiasaan atau ucapan orang.

    • Pastikan setiap amalan ada dalilnya, baik dari Al-Qur’an atau Hadis yang sahih.

    • Bedakan antara agama yang berdasar dalil dengan tradisi yang berdasar hawa nafsu.


Kesimpulan

Ghuluw adalah pintu besar menuju kesyirikan. Ia muncul karena kebodohan, hawa nafsu, dan tradisi yang diwariskan. Umat terdahulu binasa karena ghuluw, maka umat Islam pun diperingatkan agar menjauhinya. Jalan selamat adalah menuntut ilmu, berpegang pada dalil, menjaga lingkungan yang baik, serta menjauhi taklid buta.

  1.  

0 Comments