Aqidah dan Adab Penuntut Ilmu - P18

 

📅 Waktu Pembelajaran: Setiap Hari Kamis

🕙 Pukul: 11:00 WIB

👑Pengajar: Ustadzah Ika Yuniarti, Lc

📖 Resume Aqidah dan Adab Penuntut Ilmu

📝 Note by ChatGPT

Catatan Kajian: Al-Qawā‘id al-Arba‘ – Kaidah Keempat

Pendahuluan
Alhamdulillah, rangkaian pembahasan kitab al-Qawā‘id al-Arba‘ karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah hampir sampai pada ujungnya. Setelah sebelumnya kita membahas mukadimah dan tiga kaidah besar yang membongkar akar kesyirikan manusia, kali ini masuk ke kaidah keempat, yaitu poin terakhir yang melengkapi pemahaman kita tentang tauhid dan syirik.


🔄 Review Singkat Kaidah-Kaidah Sebelumnya

  1. Kaidah Pertama
    Orang musyrik dahulu mengakui Tauhid Rububiyah (meyakini Allah sebagai Pencipta, Pengatur, Pemberi rezeki), tetapi itu tidak cukup untuk menyelamatkan mereka. Yang menjadi inti adalah Tauhid Uluhiyah: mengesakan Allah dalam ibadah.

  2. Kaidah Kedua
    Mereka berdalih menyembah berhala hanyalah untuk taqarrub (mendekatkan diri) dan mencari syafaat. Allah membantah alasan ini dalam QS. Az-Zumar:3 dan QS. Yunus:18. Syafaat yang benar hanya milik Allah, diberikan dengan izin-Nya dan hanya untuk Ahlul Tauhid.

  3. Kaidah Ketiga
    Semua bentuk syirik sama saja hukumnya, tidak ada perbedaan status. Sekecil apapun syirik akbar, pelakunya kekal di neraka. Allah memerintahkan Nabi dan kaum muslimin memerangi syirik hingga agama hanya untuk Allah semata (QS. Al-Baqarah:193).


🕌 Kaidah Keempat

Teks Kaidah:
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab berkata:
“Bahwasanya orang-orang musyrik zaman sekarang lebih parah kesyirikannya daripada musyrik zaman dahulu.”

📌 Perbandingan Musyrikin Dahulu dan Sekarang

  • Musyrikin zaman jahiliah (al-awwalīn):
    Mereka berbuat syirik hanya ketika hidup lapang, senang, sehat, atau kaya. Tetapi ketika kesulitan dan musibah, mereka justru berdoa ikhlas hanya kepada Allah.

  • Musyrikin zaman belakangan (mimman ba‘dahum):
    Termasuk masa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab hingga zaman kita sekarang. Mereka berdoa kepada selain Allah baik dalam keadaan lapang maupun dalam keadaan sulit.
    ➝ Inilah sebab mengapa kesyirikan mereka dinilai lebih parah.


📖 Dalil-Dalil

  1. QS. Al-‘Ankabūt:65

    “Maka apabila mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya; tetapi tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke daratan, tiba-tiba mereka kembali berbuat syirik.”

  2. QS. Al-Isrā’:67

    “Dan apabila bahaya menimpa kamu di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru selain Allah; maka tatkala Allah menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia itu sungguh sangat ingkar.”

  3. QS. Luqmān:32

    “Dan apabila mereka diliputi ombak yang besar seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke daratan, sebagian mereka tetap bersikap pertengahan. Dan tiadalah yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali setiap orang yang sangat khianat lagi sangat ingkar.”

📝 Kesimpulan Dalil

  • Musyrikin dahulu masih mengakui Allah dalam keadaan sulit.

  • Musyrikin belakangan justru memohon kepada kuburan, wali, berhala, atau makhluk lain bahkan saat ditimpa bahaya.

  • Inilah bukti bahwa kesyirikan belakangan lebih buruk, karena benar-benar mencabut konsekuensi tauhid rububiyah.


🔗 Keterkaitan dengan Kaidah Pertama

  • Di Kaidah Pertama, kita belajar bahwa sekadar mengakui Tauhid Rububiyah tidak cukup.

  • Di Kaidah Keempat, kita melihat musyrikin dulu pun sebenarnya masih berpegang pada Tauhid Rububiyah ketika darurat.

  • Namun karena mereka tidak menjalankan konsekuensi Tauhid Uluhiyah, mereka tetap dipandang musyrik dan diperangi Rasulullah ﷺ.

  • Maka musyrikin zaman sekarang lebih jauh lagi, karena bahkan Tauhid Rububiyah dalam kondisi sulit pun sudah tidak mereka wujudkan.


✨ Penutup

Kaidah keempat ini mengingatkan kita bahwa syirik yang tersebar pada umat belakangan justru lebih parah dari syirik orang Quraisy zaman Rasulullah ﷺ. Maka kewajiban kita:

  • Menjauhi segala bentuk syirik, kecil maupun besar.

  • Memurnikan doa, tawakal, dan ibadah hanya untuk Allah.

  • Memahami tauhid dengan benar agar tidak terjerumus ke dalam kesyirikan modern yang sering dibungkus dengan nama tawasul, tabarruk, atau meminta syafaat pada selain Allah.


📌 Dengan selesainya kaidah keempat ini, lengkaplah pembahasan al-Qawā‘id al-Arba‘. InsyaAllah pada pertemuan berikutnya bisa dilakukan murajaah menyeluruh dari awal hingga akhir, agar semakin kokoh pemahaman kita tentang tauhid.

1. Musyrik Zaman Dulu vs Musyrik Zaman Sekarang

Musyrik Zaman Dulu:

  • Menyekutukan Allah dengan hal-hal yang baik, misalnya malaikat atau makhluk saleh.

  • Sesembahan mereka pada dasarnya baik, taat, atau suci.

  • Meskipun demikian, tetap dianggap syirik dan berdosa.

Musyrik Zaman Sekarang (terutama Sufi dan Rafidah/Syiah):

  • Menyekutukan Allah dengan orang-orang yang fajir, berdosa, atau bermaksiat.

  • Sesembahan berasal dari orang-orang yang buruk atau berdosa.

  • Kesyirikan lebih parah karena mengangkat manusia atau makhluk fasik sebagai perantara ibadah.

  • Semua musyrik, baik zaman dulu maupun sekarang, dosanya sama: di luar Islam, amalannya terhapus, dan akan kekal di neraka. Perbedaannya hanya pada sisi amalan lahir (lebih buruk atau lebih ringan).


2. Akidah Orang Sufi

Akidah Sufi yang Menyimpang:

  1. Wihdatul Wujud (Kesatuan Wujud):

    • Meyakini semua alam semesta adalah perwujudan dari zat Allah.

    • Salah, karena akidah sahih menegaskan Allah menciptakan alam dan makhluk-Nya, alam bukan perwujudan zat Allah.

  2. Allah di mana-mana:

    • Salah tafsir ayat Al-Qur’an (misalnya ayat Wallahu Ma’akum ditakwil) sehingga percaya Allah ada di mana-mana dan tidak bersemayam di atas Arsy.

  3. Kenabian dapat dicapai manusia:

    • Meyakini seseorang bisa menjadi nabi melalui ibadah atau aktivitas tertentu.

    • Salah, karena akidah sahih menyatakan kenabian hanya ditentukan Allah (QS. Al-Hajj:75).

  4. Bebas dari syariat (tingkatan makrifat/haqiqah):

    • Mereka yang mencapai tingkatan tertentu dianggap tidak perlu salat, bisa melakukan halal dan haram seenaknya.

    • Salah, karena mukalaf tetap wajib menunaikan syariat.

  5. Nur Muhammad:

    • Meyakini makhluk diciptakan dari Nabi Muhammad.

    • Menyimpang dari akidah Ahlusunah wal Jamaah.

Ciri khas Sufi secara lahiriah:

  • Pakai pakaian usang/lusu.

  • Selalu zikir (kadang pakai biji-bijian/tasbih).

  • Ada ritual seperti nari-nari, musik, topi tinggi.

  • Ada keyakinan karomah pada tokoh Sufi: bisa menyembuhkan, menolong tanpa bersentuhan.

  • Nama besar: Syekh Abdul Qadir al-Jailani, Ibnu Arabi, Ibnu Sab’in.

  • Praktik doa: kepada tokoh Sufi, bukan langsung ke Allah.


3. Akidah Ahlusunah Wal Jamaah

  • Allah menciptakan makhluk dari Adam, tidak ada sebelumnya.

  • Allah bersemayam di atas Arsy (yastawi ‘alal Arsy), Arsy adalah ciptaan Allah.

  • Kenabian ditentukan oleh Allah, manusia tidak bisa menjadikan dirinya nabi.

  • Semua manusia mukalaf, wajib melaksanakan syariat (shalat, puasa, halal-haram).

Perbedaan utama dengan Sufi:

  • Sufi meyakini manusia bisa bebas dari syariat dan memiliki kekuatan ilahiah.

  • Kita meyakini syariat berlaku untuk semua mukalaf tanpa terkecuali.


4. Contoh Kesyirikan Zaman Sekarang

  • Sufi: Berdoa kepada ulama atau tokoh Sufi dengan keyakinan mereka bisa menolong.

  • Syiah/Rafidah: Berdoa kepada Ali, Hasan, Husein sebagai perantara.

  • Kesyirikan lebih parah karena objek disembah adalah orang fasik atau berdosa, bukan orang saleh seperti musyrik zaman dulu.


5. Poin Penting

  • Semua bentuk syirik buruk, tapi musyrik zaman sekarang lebih berbahaya karena menyekutukan Allah dengan orang atau makhluk berdosa.

  • Ciri akidah Sufi menyimpang: Wihdatul Wujud, kekuatan karomah, bebas dari syariat, kenabian dapat dicapai manusia.

  • Ciri lahiriah Sufi: zikir terus-menerus, pakaian lusu, ritual tari dan musik, keyakinan karomah tokoh Sufi.

  • Akidah sahih: Allah menciptakan alam, bersemayam di atas Arsy, kenabian ditentukan Allah, syariat berlaku untuk semua mukalaf.

 

0 Comments