Aqidah dan Adab Penuntut Ilmu - P3

 

 

📅 Waktu Pembelajaran: Setiap Hari Kamis

🕙 Pukul: 11:00 WIB

👑Pengajar: Ustadzah Ika Yuniarti, Lc

📖 Resume Aqidah dan Adab Penuntut Ilmu

📝 Note by ChatGPT

Resume Kajian Adab– Pertemuan 3

Kitab Tazkiratus Sami’ wal Mutakallim karya Ibnu Jama’ah

Pembukaan

Alhamdulillāh, segala puji bagi Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā atas segala nikmat sehat, waktu, dan taufiq-Nya. Dengan izin-Nya kita masih diberi kesempatan untuk duduk dalam majelis ilmu, walaupun melalui perantara daring. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, sahabat, serta seluruh pengikutnya hingga hari kiamat.

Tidak semua orang diberi kesempatan untuk hadir di majelis ilmu. Maka sudah sepatutnya kita mensyukuri nikmat ini, karena duduk bersama menimba ilmu merupakan karunia besar dari Allah. Semoga Allah menjadikan majelis ini penuh berkah dan menjadikan ilmu yang kita pelajari bermanfaat dalam kehidupan.


Peralihan Materi: Dari Aqidah ke Adab

Setelah sebelumnya dua pertemuan membahas tentang aqidah, pada pertemuan ketiga ini kita memasuki pembahasan adab. Materi ini menggunakan kitab karya ulama besar Syafi‘iyyah, yaitu Imam Ibnu al-Jama‘ah rahimahullāh. Kitabnya berjudul Tazkiratus Sami’ wal Mutakallim fī Ādābil ‘Ālim wal Muta‘allim.

Kitab ini tidak terlalu panjang, juga tidak terlalu ringkas. Bahasanya padat, jelas, dan sarat nasihat. Isinya membimbing baik guru (al-‘ālim, mudarris) maupun murid (ṭālibul ‘ilm) dalam menunaikan peran mereka masing-masing.


Makna Judul Kitab

  • Tazkirah: peringatan atau nasihat.

  • As-Sami’: pendengar, yaitu murid.

  • Al-Mutakallim: pembicara, yaitu guru.

Maka kitab ini berisi nasihat bagi keduanya: penuntut ilmu dan pengajar. Relevan sekali bagi kita, sebab dalam kehidupan kita terkadang berperan sebagai murid, terkadang juga sebagai guru.

Bagi seorang ibu, misalnya, ia adalah guru pertama bagi anak-anaknya. Sehingga pembahasan adab ini mencakup seluruh kita—baik di kelas, di rumah, maupun dalam kehidupan sehari-hari.


Pentingnya Adab dalam Menuntut Ilmu

Imam Ibnu Jama‘ah menekankan bahwa adab adalah pintu ilmu. Adab laksana akar dan batang pohon, sedangkan ilmu adalah buahnya.

  • Akar = pondasi.

  • Batang = penghubung.

  • Buah = hasil yang dinikmati.

Tidak mungkin ada buah tanpa akar dan batang. Begitu pula, ilmu tidak akan menetap dalam hati tanpa adab. Karenanya, para ulama terdahulu banyak menghabiskan waktu bertahun-tahun mempelajari adab sebelum masuk ke ilmu.

Adab menjaga hati tetap bersih, membuat ilmu mudah dipahami, dan menjadikan ilmu itu bermanfaat.


Struktur Kitab

Kitab ini terbagi menjadi 5 bab:

  1. Keutamaan Ilmu dan Ulama
    – Membahas ayat dan hadits tentang keutamaan ilmu.
    – Contoh: QS. Al-Mujādilah: 11, Allah meninggikan derajat orang beriman dan berilmu.
    – QS. Ali ‘Imrān: 18, Allah, malaikat, dan orang berilmu bersaksi atas tauhid.

    Tujuan bab ini adalah memberi semangat menuntut ilmu, sekaligus menjelaskan bahwa keutamaan itu hanya didapat bila syarat-syaratnya dipenuhi. Banyak orang belajar, namun tidak merasakan keberkahan ilmu karena adabnya tidak dijaga.

  2. Adab Guru (‘Ālim, Mudarris)
    – Dibagi menjadi tiga:
    a. Adab terhadap dirinya sendiri.
    b. Adab saat mengajar.
    c. Adab terhadap murid.

    Guru sejati tetap seorang penuntut ilmu sepanjang hidupnya. Ia terus memperbaiki diri dan tidak berhenti belajar.

  3. Adab Murid (Ṭālibul ‘Ilm)
    – Dibagi menjadi dua:
    a. Adab terhadap dirinya sendiri.
    b. Adab terhadap guru dan ilmu.

    Murid dituntut menyiapkan diri lahir dan batin agar ilmunya menancap dan bermanfaat.

(Bab 4 dan 5 akan dibahas pada pertemuan selanjutnya).


Adab Murid: Menyiapkan Diri

Seorang murid tidak cukup menyiapkan catatan, buku, atau perangkat belajar. Ia harus menyiapkan hati.

Ilmu adalah cahaya, dan cahaya tidak akan masuk ke hati yang kotor. Karena itu, murid wajib membersihkan dirinya dari penyakit hati seperti sombong, riya, atau ujub.

Analogi yang indah: hati itu seperti tanah, ilmu ibarat benih. Jika tanah subur, benih tumbuh subur. Jika gersang, maka sia-sia disiram setiap hari. Begitu pula hati—ilmu hanya menetap pada hati yang bersih dan siap.


Bekal Seorang Murid

Bekal yang harus dimiliki penuntut ilmu antara lain:

  • Sabar dan tekun.

  • Rendah hati di hadapan guru.

  • Siap menerima nasihat.

  • Menjaga hati dari penyakit.

  • Ikhlas semata-mata karena Allah.

Tanpa bekal ini, belajar hanya menjadi rutinitas tanpa ruh.


Adab Murid terhadap Guru

Ibnu Jama‘ah menjelaskan detail adab murid terhadap guru, misalnya:

  • Tidak sibuk dengan hal-hal yang tidak penting saat guru menjelaskan.

  • Tidak menyela dengan ucapan yang tidak perlu.

  • Menghormati guru dengan mendengarkan dengan seksama.

Kesibukan kecil seperti memainkan pulpen, mengetuk meja, atau hal-hal yang mengganggu perhatian termasuk bentuk kurangnya adab.


Adab Murid terhadap Ilmu

Menghormati ilmu sama pentingnya dengan menghormati guru. Cara menghormatinya:

  • Tidak meremehkan ayat Al-Qur’an, hadits Nabi ﷺ, kaidah fiqh, atau perkataan ulama.

  • Menghadirkan kesungguhan dan rasa hormat ketika mempelajarinya.

  • Tidak menjadikan ilmu sekadar bahan debat, tetapi sebagai bekal amal.


Sekilas Biografi Imam Ibnu Jama‘ah

Nama lengkap beliau adalah Badruddin Ibnu Jama‘ah rahimahullāh (639–733 H). Beliau lahir di keluarga ulama, tumbuh dengan Al-Qur’an dan ilmu syar‘i, lalu menjadi qādī (hakim) sekaligus guru besar.

Sebagai qādī di masa lalu, seorang ulama bukan hanya ahli hukum duniawi, tetapi juga faqih dalam agama. Imam Nawawi bahkan memuji fatwa-fatwa Ibnu Jama‘ah karena kedalaman ilmunya. Kitab ini adalah salah satu karya beliau yang sangat bermanfaat hingga kini.


Diskusi dan Tanya Jawab

Beberapa faidah dari sesi diskusi antara lain:

  • Ibu sebagai thālibah sekaligus guru. Seorang ibu tetap murid dalam majelis, tetapi juga guru pertama bagi anak-anaknya. Maka ia memikul tanggung jawab besar.

  • Kesiapan hati. Rasa minder, sulit fokus, atau merasa tidak pantas sering menjadi penghalang. Solusinya adalah memperbanyak doa, muhasabah, dan menjaga hati tetap bersih.

  • Prioritas ilmu. Jika dihadapkan pada dua kelas, pilihlah ilmu yang lebih wajib atau lebih bermanfaat. Jika tetap bingung, lakukan shalat istikharah.

  • Membersihkan hati. Cara terbaik adalah memperbanyak doa, ibadah, dzikir, dan muhasabah diri agar ilmu benar-benar menetap.


Penutup

Kajian ini menegaskan bahwa ilmu dan adab tidak bisa dipisahkan. Adab adalah pondasi yang membuat ilmu kokoh dan bermanfaat. Dengan menjaga adab, baik sebagai guru maupun murid, insyaAllah ilmu yang dipelajari akan menjadi cahaya dan membuahkan amal dalam kehidupan sehari-hari.

0 Comments