📅 Waktu Pembelajaran: Setiap Hari Kamis
🕙 Pukul: 11:00 WIB
👑Pengajar: Ustadzah Ika Yuniarti, Lc
📖 Resume Aqidah dan Adab Penuntut Ilmu
📝 Note by ChatGPT
Pentingnya Adab Sebelum Ilmu
Dalam pembahasan kitab Tazkirah al-Sāmi‘ wa al-Mutakallim karya Ibnul Jama‘ah, beliau memulai dengan muqaddimah yang menegaskan urgensi adab dalam perjalanan menuntut ilmu. Bahkan, menurut beliau, adab adalah wasilah (sarana) menuju ilmu, sementara ilmu sendiri menjadi sarana menuju ibadah. Maka, ketiganya—adab, ilmu, dan ibadah—saling berkaitan erat.
Adab sebagai Wasilah Menuju Ilmu
Ibarat orang yang ingin melakukan perjalanan menuju Makkah untuk berhaji, tentu ia memerlukan kendaraan atau transportasi. Dalam analogi ini, tujuan adalah ibadah, ilmu menjadi jalan yang ditempuh, dan adab adalah kendaraan yang akan mengantarkan seseorang sampai ke tujuan. Tanpa adab, sulit bagi seorang penuntut ilmu untuk mencapai ilmu yang bermanfaat dan mengantarkannya kepada ibadah yang benar.
Mengapa Adab Didahulukan?
Ibnul Jama‘ah menegaskan dalam muqaddimahnya bahwa sesuatu yang paling dibutuhkan seorang muslim, khususnya para penuntut ilmu, adalah adab yang baik. Hal ini ditegaskan oleh syariat melalui ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis Nabi, serta diperkuat dengan logika sehat: ilmu tidak akan masuk dengan benar ke hati seseorang yang tidak memiliki adab.
Selain dalil syar‘i, fakta sejarah juga menunjukkan bahwa para sahabat, tabi‘in, dan ulama setelah mereka senantiasa mendahulukan adab sebelum mengambil ilmu dari seorang guru. Mereka mempelajari akhlak, kebiasaan, dan perilaku ulama, lalu meneladani itu terlebih dahulu, barulah mereka mengambil ilmunya.
Perkataan Ulama tentang Keutamaan Adab
Banyak sekali ulama yang menekankan pentingnya adab. Beberapa di antaranya:
-
Ibnu Sirin – menyatakan bahwa para sahabat dahulu belajar adab sebagaimana mereka belajar ilmu. Bahkan, adab adalah pintu utama menuju ilmu.
-
Al-Hasan al-Bashri – menegaskan bahwa para ulama terdahulu rela bersafar bertahun-tahun hanya untuk belajar adab dari seorang guru. Mereka hidup dekat dengan guru, memperhatikan bagaimana akhlaknya sehari-hari, lalu meneladaninya.
-
Sufyan bin ‘Uyainah – menyebutkan bahwa barometer adab terbaik adalah Rasulullah ﷺ, yang akhlaknya adalah Al-Qur’an. Maka, belajar adab berarti meneladani Rasulullah melalui pemahaman para sahabat, tabi‘in, dan ulama setelahnya.
-
Habib bin Syahid – menasihati anaknya untuk senantiasa dekat dengan para fuqaha dan ulama, mengambil adab mereka terlebih dahulu sebelum mengambil ilmu mereka. Ia berkata, “Aku lebih suka engkau belajar adab dari gurumu daripada mengambil banyak hadis darinya tanpa adab.”
-
Sebagian tabi‘in lain menasihati anaknya: “Belajar satu bab adab lebih aku cintai daripada engkau belajar tujuh puluh bab ilmu.” Ini bukan berarti menolak ilmu, melainkan menekankan bahwa adab harus mendahului ilmu.
-
Ibnu al-Mubarak – berkata: “Kami lebih butuh kepada adab daripada ilmu.” Maksudnya, kebutuhan manusia kepada adab lebih mendesak karena adab adalah pondasi untuk meraih ilmu yang bermanfaat.
Kesimpulan
Dari penjelasan dan nukilan para ulama di atas, dapat disimpulkan bahwa:
-
Adab adalah fondasi bagi ilmu.
-
Ilmu adalah jalan menuju ibadah.
-
Ibadah adalah tujuan akhir seorang mukmin.
Maka, adab bukan sekadar pelengkap, tetapi justru syarat utama agar ilmu bisa masuk dengan benar, diamalkan dengan ikhlas, dan mengantarkan seorang muslim kepada ibadah yang diterima Allah ﷻ.
Adab sebagai Asas Thalabul ‘Ilmi
Pada bagian awal kajian ini disampaikan bahwa adab bukanlah tsamarah (buah/hasil) dari ilmu. Bukan pula tambahan belaka, tetapi justru menjadi asas atau pondasi. Sebelum seseorang masuk ke dalam ilmu, ia harus memahami adab, mengerti adab, dan mengamalkannya dengan baik. Adab inilah yang akan menjadi cahaya dan penopang dalam perjalanan menuntut ilmu.
Adapun buah dari ilmu itu sendiri adalah amal. Sehingga bisa kita simpulkan: jalan menuju ilmu adalah adab, sedangkan puncak dari ilmu adalah amal.
Ustadzah memberikan permisalan: ketika seseorang ingin pergi menuju sebuah tempat, ia membutuhkan kendaraan. Tempat itu diibaratkan ilmu, sementara kendaraan yang akan mengantarkan kita ke sana adalah adab. Ketika seseorang sudah sampai di tujuan (ilmu), barulah ia bisa meraih maksud dari perjalanan tersebut, yaitu amal dan ibadah. Dengan kata lain, amal itu adalah tujuan akhir, ilmu itu jalan yang dituju, sedangkan adab adalah kendaraan yang menghantarkan.
Empat Pembahasan Awal dalam Bab Fadhlu al-‘Ilmi
Pada bab pertama, penulis kitab menjelaskan empat pokok penting:
-
Keutamaan ilmu itu sendiri.
-
Keutamaan Ahlul ‘Ilmi (orang yang memiliki ilmu).
-
Keutamaan mengajarkan ilmu.
-
Keutamaan belajar (thalabul ‘ilmi).
Empat hal inilah yang akan dikupas: apa kedudukan ilmu, mengapa harus menjadi Ahlul ‘Ilmi, bagaimana kewajiban mengajarkan ilmu, dan apa keutamaan belajar serta menuntut ilmu.
Keutamaan Ilmu dan Orang Berilmu
Penjelasan dimulai dengan dalil dari Al-Qur’an dan hadits.
1. Surah Al-Mujadilah ayat 11
Allah ﷻ berfirman bahwa Dia akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.
Dalam tafsir Imam Asy-Syafi’i rahimahullah dijelaskan bahwa Allah mengangkat derajat orang beriman dan orang berilmu, baik di dunia maupun di akhirat. Orang yang beriman akan ditinggikan kedudukannya, dan orang berilmu diberikan kemuliaan di dunia, serta pahala yang besar di akhirat, jika ia ikhlas.
Penting diperhatikan bahwa ilmu dan iman disebutkan beriringan. Artinya, ilmu tanpa iman tidak akan mengangkat derajat seseorang. Ada orang yang berilmu tentang syariat, tetapi jika tidak beriman, ia tidak akan ditinggikan derajatnya. Maka syaratnya adalah iman sekaligus ilmu.
2. Perkataan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma
Beliau berkata bahwa derajat orang alim berada di atas orang mukmin biasa sebanyak 700 derajat, dan jarak antara tiap derajat sejauh perjalanan seratus tahun.
Hal ini tidak bertentangan dengan ayat sebelumnya. Karena yang dimaksud dengan “alim” adalah orang yang berilmu sekaligus beriman. Ulama sejati adalah yang paling mengenal Allah, paling takut kepada-Nya, dan paling taat kepada-Nya. Maka kedudukan mereka tentu lebih tinggi dibanding mukmin yang hanya beriman namun tanpa ilmu yang mendalam.
3. Surah Ali Imran ayat 18
Dalam ayat ini Allah menyatakan persaksian tentang keesaan-Nya. Persaksian itu datang dari tiga pihak: Allah sendiri, para malaikat, dan orang-orang yang berilmu.
Lihatlah betapa tinggi kedudukan Ahlul ‘Ilmi. Persaksian mereka disejajarkan dengan persaksian Allah dan para malaikat. Ini menunjukkan kemuliaan dan keutamaan yang luar biasa, karena Allah tidak menyebut golongan lain dalam konteks persaksian tentang tauhid, kecuali ulama.
4. Surah Az-Zumar ayat 9
Allah ﷻ berfirman: “Katakanlah, apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?”
Ini adalah pertanyaan retoris, yang maknanya: jelas tidak sama. Orang yang tahu berbeda dengan orang yang tidak tahu. Hal ini akan tampak jelas dalam kualitas ibadah.
Contohnya dalam shalat: orang yang berilmu mengetahui syarat, rukun, dan pembatal shalat. Ia melaksanakan shalat dengan penuh kekhusyukan. Sedangkan orang awam mungkin hanya melaksanakan shalat sebatas rutinitas tanpa pemahaman. Begitu pula dalam puasa: orang yang berilmu akan menjaga seluruh anggota tubuhnya dari yang haram, bukan hanya menahan lapar dan haus.
Dengan demikian, ilmu adalah dasar dari amal dan ibadah. Amal yang dilakukan tanpa ilmu akan berbeda kualitasnya dibanding amal yang disertai ilmu.
Kesimpulan
-
Adab adalah asas, bukan buah. Amal adalah buah, sementara ilmu adalah tujuan yang harus dicapai. Adab menjadi kendaraan untuk sampai pada ilmu.
-
Ilmu dan iman harus berjalan beriringan. Ilmu tanpa iman tidak mengangkat derajat, iman tanpa ilmu membuat ibadah kurang sempurna.
-
Allah meninggikan derajat orang beriman dan berilmu, baik di dunia maupun di akhirat.
-
Ulama memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Persaksian mereka disejajarkan dengan Allah dan para malaikat.
-
Orang berilmu berbeda dengan orang awam. Kualitas ibadah, amal, dan khusyuknya jelas lebih tinggi, karena berlandaskan ilmu.
Dengan memahami keutamaan ilmu dan adab, seorang penuntut ilmu akan lebih termotivasi untuk memperbaiki adabnya, menguatkan imannya, dan menuntut ilmu dengan kesungguhan.

0 Comments