Aqidah dan Adab Penuntut Ilmu - P8

 

 

📅 Waktu Pembelajaran: Setiap Hari Kamis

🕙 Pukul: 11:00 WIB

👑Pengajar: Ustadzah Ika Yuniarti, Lc

📖 Resume Aqidah dan Adab Penuntut Ilmu

📝 Note by ChatGPT

Ringkasan Kajian: Kaidah Pertama dalam Tauhid

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memudahkan kita untuk terus belajar. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, keluarga beliau, dan para sahabatnya.

Dalam pertemuan kali ini, sebelum masuk pada kaidah kedua, ustadz mengajak untuk muroja’ah kembali materi sebelumnya, yaitu kaidah pertama. Beberapa ummahat memberikan ikhtisar dan catatan, lalu dilanjutkan dengan kesimpulan dari ustadz.

Pokok Pembahasan

1. Tujuan Penciptaan Manusia

  • Allah menciptakan manusia untuk beribadah kepada-Nya.

  • Salat adalah ibadah yang paling utama, pertama kali dihisab, dan menjadi barometer kebaikan kehidupan seorang hamba.

  • Jika salatnya baik, maka baiklah seluruh amalannya.

2. Syarat Diterimanya Ibadah

Setiap ibadah memiliki syarat sah secara zahir, seperti salat, puasa, dan haji. Namun, ada dua syarat utama (syarat kubul) agar ibadah diterima di sisi Allah:

  1. Ikhlas: seluruh ibadah hanya ditujukan untuk Allah (tauhid, bebas dari syirik).

  2. Ittiba’: sesuai tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Tanpa dua hal ini, ibadah tidak akan diterima meski secara zahir terlihat sempurna.

3. Bahaya Syirik

  • Syirik adalah kezaliman terbesar.

  • Menghapus seluruh amal kebaikan.

  • Menjadi jurang pemisah antara hamba dan Rabbnya.

  • Pelakunya kekal dalam neraka.

4. Tauhid Rububiyah dan Uluhiyah

  • Orang musyrik Arab dahulu meyakini Tauhid Rububiyah (Allah yang mencipta, memberi rezeki, menghidupkan, mematikan).

  • Namun mereka tidak menjalankan Tauhid Uluhiyah (ibadah hanya kepada Allah).

  • Karena itu mereka tetap diperangi Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, sebab iman pada rububiyah saja tidak cukup menjadikan seseorang muslim.

5. Keterkaitan Rububiyah dan Uluhiyah

  • Keduanya satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.

  • Kalimat Laa ilaaha illallah mencakup keduanya:

    • Rububiyah: meyakini Allah sebagai Pencipta dan Pengatur.

    • Uluhiyah: mengesakan Allah dalam ibadah.

  • Orang yang hanya mengimani Rububiyah tapi enggan beribadah kepada Allah tetap dianggap kafir.

6. Tauhid Asma’ wa Sifat

  • Tauhid yang ketiga adalah mengimani nama dan sifat Allah sebagaimana ditetapkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah.

  • Kewajiban kita adalah menerima dan meyakini, tanpa bertanya “bagaimana” (bilaa kaif).

  • Nama-nama Allah tidak terbatas hanya 99, meskipun dalam hadits disebutkan 99 nama yang memiliki keutamaan khusus.

7. Analogi Syukur

  • Secara sosial, ketika seseorang berbuat baik kepada kita, kita wajib berterima kasih dan membalas dengan kebaikan.

  • Jika kepada manusia saja demikian, maka lebih-lebih lagi kepada Allah yang telah memberi segala nikmat dan karunia.

  • Konsekuensi dari syukur kepada Allah adalah mentauhidkan-Nya dalam ibadah.

8. Hak Allah dan Hak Hamba

Dalam hadits Mu’adz bin Jabal:

  • Hak Allah atas hamba: hanya Allah yang disembah, tidak disekutukan.

  • Hak hamba atas Allah: jika mereka tidak berbuat syirik, Allah tidak akan mengazab mereka.


Kesimpulan Kaidah Pertama

  1. Ikrar dengan Tauhid Rububiyah saja tidak cukup untuk menjadikan seseorang muslim.

  2. Tauhid Rububiyah menuntut konsekuensi Tauhid Uluhiyah.

  3. Kalimat Laa ilaaha illallah mencakup Rububiyah dan Uluhiyah sekaligus.

  4. Syirik adalah penghapus amal dan dosa terbesar.

  5. Tauhid Asma’ wa Sifat adalah bagian penting dalam mengenal Allah.

Dengan demikian, memahami dan mengamalkan Tauhid secara utuh adalah fondasi utama dalam Islam. Tauhid bukan sekadar pengakuan bahwa Allah Maha Pencipta, tapi harus diiringi dengan ibadah yang murni hanya kepada-Nya.

Kajian Aqidah: Bahaya Sifat Ghuluw dan Permintaan Doa kepada Orang Shalih

Salah satu celah utama seseorang bisa terperosok ke dalam kesyirikan adalah sifat ghuluw, yaitu sikap berlebihan dalam memandang sesuatu, baik itu pada manusia, ibadah, maupun hal-hal lain. Rasulullah ﷺ sendiri telah mengingatkan umatnya agar tidak berlebih-lebihan kepada beliau. Beliau menegaskan:

"Sesungguhnya aku hanyalah hamba Allah dan Rasul-Nya."

Artinya, kedudukan Rasulullah ﷺ adalah sebagai hamba Allah yang diangkat menjadi utusan. Hak beliau adalah ditaati dan diikuti (ittibā‘), bukan diibadahi. Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ melarang umatnya menjadikan kuburnya sebagai masjid atau tempat peribadatan setelah beliau wafat.

Awal Mula Kesyirikan

Sejarah juga mencatat bagaimana kesyirikan pertama kali muncul di muka bumi. Sebagian ulama berpendapat ada beberapa pendapat: ada yang menyebut sejak Iblis, ada pula sejak Qabil, ada yang menyebut zaman Nabi Idris. Namun pendapat yang paling kuat adalah pada masa Nabi Nuh عليه السلام.

Kisahnya, dahulu di sebuah kaum terdapat lima orang shalih yang sangat dicintai masyarakat. Ketika mereka wafat, masyarakat ingin mengenang mereka agar tetap termotivasi dalam ibadah. Maka dibuatlah patung sebagai bentuk penghormatan, namun awalnya tidak disembah. Generasi pertama hanya menjadikannya sebagai pengingat kebaikan.

Namun ketika generasi tersebut wafat, datanglah generasi setelahnya. Melihat adanya patung-patung itu, mereka bertanya siapa gerangan tokoh yang dipatungkan. Lalu turunlah cerita bahwa mereka adalah orang-orang shalih. Setan kemudian membisikkan bahwa patung-patung itu memiliki kedudukan istimewa hingga akhirnya generasi berikutnya terjerumus menyembah patung tersebut.

Dari sini kita belajar bahwa kesyirikan itu tidak datang secara tiba-tiba, melainkan bertahap. Dari sekadar mengenang, lalu menghormati, hingga akhirnya menyembah. Maka sekecil apapun celah menuju kesyirikan harus ditutup.

Hukum Meminta Doa kepada Orang Shalih

Dari pembahasan ini muncul pertanyaan: bagaimana hukum meminta doa kepada orang shalih?

  1. Jika orang shalih masih hidup – sebagian ulama membolehkan dengan syarat tertentu. Misalnya meminta doa kepada sesama muslim yang masih hidup, sebagaimana Rasulullah ﷺ pernah mengarahkan Umar bin Khattab agar meminta doa kepada Uwais al-Qarni. Namun kasus ini bersifat khusus, karena merupakan wahyu, bukan dalil umum untuk semua orang.

  2. Jika orang shalih sudah wafat – tidak boleh. Karena hal itu termasuk bentuk ghuluw yang menyeret kepada kesyirikan, sebagaimana kaum Nabi Nuh yang akhirnya menyembah orang-orang shalih yang telah wafat.

Pandangan Ulama

Sebagian besar ulama tidak menganjurkan seorang muslim meminta doa kepada orang shalih, meskipun masih hidup, dengan alasan:

  • Doa itu ibadah. Seorang muslim seharusnya langsung berdoa kepada Allah, karena ketika ia berdoa, itu sendiri sudah merupakan bentuk ibadah yang besar pahalanya.

  • Allah Maha Dekat. Allah berfirman:

    “Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 186)

Ayat ini menegaskan bahwa setiap hamba bisa langsung meminta kepada Allah tanpa perantara. Bahkan momen terdekat seorang hamba dengan Rabb-nya adalah ketika ia bersujud dan berdoa.

  • Doa pasti dikabulkan. Hanya saja bentuk pengabulan doa bisa berbeda:

    1. Dikabulkan langsung sesuai permintaan.

    2. Disimpan oleh Allah sebagai tabungan pahala di akhirat.

    3. Dialihkan dalam bentuk lain, misalnya Allah menyelamatkan seseorang dari keburukan atau musibah.

Penutup

Dari uraian ini jelas bahwa sifat ghuluw menjadi pintu masuk kesyirikan. Adapun meminta doa kepada orang shalih yang masih hidup, sebagian ulama membolehkan dengan syarat, tetapi yang lebih selamat adalah langsung berdoa kepada Allah. Sebab doa adalah ibadah, dan Allah sudah menjamin kedekatan-Nya dengan hamba yang berdoa.

Maka janganlah kita melempar kesempatan ibadah ini kepada orang lain. Justru jadikan doa sebagai sarana untuk semakin mendekat kepada Allah, memohon hanya kepada-Nya, karena tidak ada yang mampu mengabulkan permintaan kita kecuali Allah semata.

Doa sebagai Ibadah

Semua orang bisa beribadah, termasuk melalui doa. Doa bukan sekadar permintaan, melainkan bentuk ibadah itu sendiri. Ketika kita berdoa, kita sedang menampakkan roja’ (harapan) dan khauf (takut) hanya kepada Allah. Saat kita meminta, berharap, atau merasa lemah dan butuh pertolongan, lalu kita bersandar penuh kepada Allah, itu sudah merupakan ibadah. Bonusnya, Allah bisa mengabulkan doa kita.

Karena itu, kita tidak boleh merasa lelah berdoa meski belum terlihat jawabannya. Bisa jadi Allah belum mengabulkan, atau sedang menyiapkan sesuatu yang lebih baik.


Suuzan dalam Berdoa

Sikap yang harus dihindari adalah berprasangka buruk terhadap doa kita sendiri. Jangan berpikir doa orang lain lebih makbul karena ia lebih shalih, sementara doa kita tidak ada nilainya. Itu termasuk merendahkan diri di hadapan manusia, yang tidak diperbolehkan. Kita hanya boleh merendahkan diri di hadapan Allah.

Setiap muslim memiliki kesempatan yang sama untuk berdoa. Hasilnya ada di tangan Allah.


Meminta Doa kepada Orang Lain

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum meminta doa kepada orang lain:

  1. Kebanyakan ulama tidak menganjurkan bahkan memperingatkan bahayanya.

    • Bisa menumbuhkan sikap tawakal kepada makhluk, bukan kepada Allah.

    • Bisa membuat orang yang dimintai doa terfitnah dengan kibr (merasa istimewa).

    • Bisa melahirkan keyakinan batil bahwa doa orang tertentu pasti lebih makbul, padahal hanya Allah yang menentukan.

    • Berbahaya bila akhirnya kita terbiasa mengandalkan orang lain, bukan berdoa sendiri.

  2. Ada ulama yang membolehkan dengan syarat tertentu.

    • Niatnya agar doa yang dipanjatkan untuk kita juga kembali sebagai kebaikan untuk orang yang mendoakan.

    • Bukan sekadar untuk memenuhi kebutuhan pribadi.


Pengecualian

Ada kondisi yang dibenarkan syariat untuk meminta doa kepada orang lain, bukan karena keutamaan orangnya, tetapi karena keadaan/waktunya mustajab:

  • Orang yang sedang safar.

  • Orang yang berpuasa sampai berbuka.

  • Kondisi-kondisi doa mustajab lain yang disebutkan dalam dalil.

Misalnya, kita berkata: “Doakan ya, karena kamu sedang safar.” Hukumnya boleh, karena ada nash yang menunjukkan doa pada keadaan itu lebih mustajab.


Doa antara Sesama Muslim

  • Doa seorang muslim untuk muslim lainnya tanpa sepengetahuannya adalah makbul.

  • Maka lebih utama kita mendoakan saudara kita diam-diam ketika melihatnya dalam kesulitan.


Doa Berjamaah

  • Tidak ada syariat khusus doa atau dzikir berjamaah yang satu berdoa dan yang lain mengaminkan, kecuali pada kondisi tertentu (misalnya istisqa).

  • Namun, ketika dalam kajian ustadz berdoa: “Semoga Allah menjaga kita, melindungi kita, dan menjauhkan kita dari syirik,” maka jamaah boleh mengaminkan karena itu doa bersama untuk kebaikan semua.


Doa kepada Orang Tua

Berbeda halnya dengan meminta doa kepada orang tua. Ini justru dianjurkan, karena ridha Allah bergantung pada ridha orang tua. Meminta doa orang tua bukan karena merasa mereka lebih makbul, tetapi karena memang kedudukan mereka di sisi anak lebih tinggi dan itu bagian dari adab.


Penutup

Kesimpulannya:

  • Doa adalah ibadah, jangan pernah berhenti berdoa.

  • Hindari suuzan terhadap doa sendiri.

  • Berhati-hatilah dalam meminta doa kepada orang lain agar tidak terjatuh pada syubhat atau fitnah.

  • Pengecualian ada jika permintaan doa didasari dalil (seperti safar atau puasa).

  • Lebih utama kita mendoakan sesama tanpa diminta.

  • Mintalah doa khusus dari orang tua, karena itu bagian dari bakti anak.

 

 

0 Comments