đź“… Waktu Pembelajaran: Setiap Hari Selasa
đź•™ Pukul: 10:00 WIB
đź‘‘Pengajar: Ustadzah Cahlina Kinasih, Lc
đź“– Resume Tadabbur Al-Qur’an dan Amal
📝 Note by ChatGPT
Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 102–104
Ayat 102: Kisah Sihir pada Zaman Nabi Sulaiman
Allah ď·» berfirman bahwa orang-orang Yahudi mengikuti apa yang dibacakan oleh setan-setan pada masa kerajaan Nabi Sulaiman. Mereka menuduh Nabi Sulaiman menguasai sihir, padahal beliau sama sekali tidak kafir dan tidak melakukan sihir. Justru setan-setanlah yang kafir karena mengajarkan sihir kepada manusia.
Tafsir al-Ä€lĹ«sÄ« menjelaskan bahwa mempelajari sihir harus dengan mendekatkan diri kepada setan melalui ucapan dan perbuatan syirik, seperti jampi-jampi yang mengandung pemujaan terhadap setan, menyembah bintang-bintang, atau perbuatan dosa lainnya. Begitu juga dalam Tafsir As-Sa’dÄ« disebutkan bahwa orang-orang Yahudi meninggalkan kitab Allah lalu mengikuti sihir yang dihembuskan setan. Mereka menyangka Nabi Sulaiman meraih kerajaan besar dengan sihir, padahal itu dusta besar. Allah telah menyucikan Nabi Sulaiman dari tuduhan tersebut.
Di negeri Babilonia, Allah menguji manusia melalui dua malaikat, Harut dan Marut. Namun keduanya tidak mengajarkan sihir kecuali setelah menegaskan: “Sesungguhnya kami hanya ujian bagimu, maka janganlah engkau kafir.” Dengan kata lain, mempelajari sihir sama saja dengan memilih jalan kekufuran.
Dampak Sihir
-
Sihir bisa menyebabkan perpecahan, bahkan antara suami dan istri.
-
Namun, semua pengaruh sihir hanya terjadi dengan izin Allah ď·».
-
Sihir tidak membawa manfaat sama sekali, baik untuk dunia apalagi akhirat.
-
Barang siapa menjual dirinya dengan sihir, maka di akhirat ia tidak akan mendapatkan keuntungan sedikit pun.
Kesimpulannya: sihir nyata adanya, tetapi berbahaya dan terlarang. Ia hanya bisa terjadi dengan izin Allah, dan tidak akan pernah membawa kebaikan.
Ayat 103: Alternatif Iman dan Takwa
Allah ď·» menegaskan bahwa seandainya orang-orang Yahudi beriman dan bertakwa, niscaya mereka akan mendapatkan pahala yang lebih baik daripada sihir yang mereka pelajari. Pahala dari sisi Allah jauh lebih besar dan kekal dibandingkan kesenangan dunia yang fana.
Para ulama juga berbeda pendapat tentang hukum penyihir:
-
Sebagian berpendapat penyihir kafir dan harus dibunuh, sebagaimana dilakukan Khalifah Umar bin Khattab r.a.
-
Sebagian lain menyatakan ia tidak kafir, namun tetap dihukum mati sebagai bentuk had.
Imam Ahmad, Imam Syafi’i, dan riwayat dari para sahabat mendukung hukuman mati bagi penyihir karena kerusakan yang ditimbulkannya sangat besar.
Ayat 104: Adab dalam Komunikasi
Allah melarang orang-orang beriman mengucapkan kata “Ra’ina” kepada Rasulullah ď·ş. Secara bahasa, kata itu bermakna “perhatikanlah kami”, namun kaum Yahudi menggunakannya dengan maksud mengejek, karena dalam bahasa mereka kata tersebut juga bermakna buruk.
Sebagai gantinya, Allah memerintahkan kaum Muslim untuk menggunakan kata lain yang lebih baik, yakni “Unzhurna” (perhatikanlah kami) dan untuk senantiasa mendengarkan.
Pelajaran dari Ayat Ini
-
Seorang Muslim harus berhati-hati dalam memilih kata agar tidak menyerupai orang kafir atau membuka celah penghinaan.
-
Adab komunikasi menuntut kita untuk menggunakan kata-kata yang baik, jelas, dan tidak bermakna ganda.
-
Perkara yang asalnya boleh bisa menjadi terlarang bila berpotensi menimbulkan kerusakan.
Hikmah dan Petunjuk dari Ayat 102–104
-
Hukum mempelajari sihir: haram, bahkan bisa menyebabkan kekufuran.
-
Sihir memiliki hakikat: ia bisa memudaratkan, tetapi hanya dengan izin Allah.
-
Iman dan takwa: jauh lebih baik daripada sihir, karena mendatangkan pahala kekal dari Allah.
-
Adab dalam berbicara: gunakan kalimat yang jelas, baik, dan tidak bermakna buruk.
-
Bahaya iri dan dengki: menjadi sebab perpecahan dan kebencian, sebagaimana terjadi antara ahli kitab dengan umat Nabi Muhammad ď·ş.

0 Comments