Al Khulasoh Al Asasiyyah Fii Masaail Al I’tiqodiyyah - P23

 


Aqidah Dasar 21. 07.25
resume chat gpt

Kajian Tauhid

Pembukaan dan Pengantar Materi

Pembukaan

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ، وَنَسْتَعِينُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

Segala puji hanya milik Allah. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan kepada-Nya, dan memohon ampunan kepada-Nya atas dosa-dosa serta kesalahan kita. Kita berlindung kepada Allah dari keburukan diri kita dan dari keburukan amal-amal kita.

Barang siapa yang Allah beri hidayah maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barang siapa yang Allah sesatkan maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

Kita bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah semata, tanpa sekutu bagi-Nya. Dan kita bersaksi bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah hamba dan utusan-Nya.


Menempatkan Nabi Muhammad ﷺ Secara Benar

Sebagai seorang muslim kita tidak boleh mengkultuskan Nabi Muhammad ﷺ melebihi posisinya sebagai hamba Allah. Kita juga tidak boleh menyucikan beliau melebihi kedudukannya sebagai Rasul Allah.

Kita harus menempatkan beliau sebagaimana Allah telah menempatkan beliau.

Hal ini penting karena kesyirikan pertama yang terjadi pada umat manusia di zaman Nabi Nuh ‘alaihissalam bermula dari sikap berlebih-lebihan dalam memuliakan orang-orang saleh.

Awalnya orang-orang hanya membuat patung untuk mengenang orang-orang saleh tersebut. Namun lama-kelamaan patung itu menjadi sesuatu yang disembah.

Inilah yang dikhawatirkan terjadi jika manusia berlebihan dalam memuliakan seseorang.

Sebagian orang mengatakan bahwa orang yang mengikuti sunnah tidak bershalawat kepada Nabi ﷺ. Padahal itu tidak benar. Kita tetap bershalawat kepada Nabi ﷺ, baik dalam dzikir pagi dan petang maupun ketika nama beliau disebut.

Namun kita tidak membuat bentuk-bentuk shalawat yang tidak diajarkan oleh Nabi ﷺ.


Pentingnya Memohon Keteguhan Iman

Allah Ta’ala memerintahkan orang-orang yang beriman untuk bertakwa kepada-Nya dan agar tetap berada di atas iman dan Islam hingga meninggal dunia.

Kita tidak pernah tahu bagaimana akhir kehidupan kita.

Betapa banyak orang yang pada awal hidupnya beragama Islam, namun ketika wafat tidak berada di atas iman Islam. Hal ini bukan hanya terjadi pada orang yang tidak memahami agama, tetapi juga bisa terjadi pada orang yang dahulu sangat tekun mempelajari agama.

Oleh karena itu kita harus senantiasa memohon kepada Allah agar diberikan hidayah dan keteguhan di atas tauhid.


Tauhid Dalam Kehidupan Sehari-hari

Sering kali kita mengatakan bahwa kita bertauhid, tetapi dalam praktik kehidupan sehari-hari kita belum benar-benar memahami makna tauhid tersebut.

Beberapa hari yang lalu saya melihat sebuah iklan tentang operasi plastik untuk mempercantik wajah. Yang dijadikan model dalam iklan tersebut adalah seorang muslimah yang berhijab.

Sebagian orang mengatakan bahwa hal itu termasuk mengubah ciptaan Allah. Namun ada juga yang membelanya dengan mengatakan bahwa itu adalah hak pribadi.

Hal-hal seperti ini perlu kita sikapi dengan pemahaman agama.

Allah sendiri telah berfirman bahwa Dia telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Karena itu seorang muslim seharusnya memiliki rasa cemburu terhadap agamanya ketika melihat sesuatu yang melanggar batas-batas syariat.

Sebagian orang mungkin mengatakan bahwa mengaitkan hal-hal seperti ini dengan tauhid terasa berlebihan. Namun pada hakikatnya seluruh aspek kehidupan seorang muslim berkaitan dengan tauhid.

Tidak ada pemisahan antara urusan dunia dan urusan agama. Kita hidup di atas bumi Allah, dan tujuan hidup kita adalah untuk beribadah kepada-Nya.


Ibadah Tidak Hanya Shalat dan Puasa

Sering kali kita memahami ibadah hanya sebatas shalat, puasa, atau membaca Al-Qur’an.

Padahal ibadah jauh lebih luas dari itu.

Ibadah bisa dilakukan dengan:

  • Hati

  • Lisan

  • Perbuatan

Banyak aktivitas sehari-hari yang bisa menjadi ibadah jika diniatkan karena Allah.

Misalnya ketika seseorang membersihkan rumah. Jika ia melakukannya hanya agar rumah terlihat rapi, maka itu sekadar aktivitas biasa. Namun jika ia melakukannya karena Allah menyukai keindahan, maka aktivitas tersebut menjadi ibadah.

Nabi ﷺ bersabda bahwa Allah itu indah dan menyukai keindahan.


Memperindah Diri dalam Batas Syariat

Islam tidak melarang seorang muslimah untuk mempercantik dirinya. Bahkan seorang wanita dianjurkan untuk merawat dirinya.

Namun yang tidak diperbolehkan adalah mengubah ciptaan Allah, seperti:

  • Tato

  • Mencabut alis

  • Menyambung rambut

  • Sulam alis

  • Sulam bibir

  • Eyelash extension permanen

Hal-hal tersebut termasuk dalam larangan syariat.

Di sisi lain, banyak hal yang sebenarnya dianjurkan dalam Islam tetapi sering diabaikan, seperti:

  • Membersihkan tubuh

  • Memotong kuku

  • Mencabut bulu ketiak

  • Membersihkan area intim

  • Menjaga kebersihan badan

Semua ini termasuk bagian dari fitrah yang diajarkan dalam Islam.

Seorang muslim juga harus menjaga kebersihan dan kenyamanan orang lain. Misalnya dengan menjaga bau badan agar tidak mengganggu orang lain ketika berada di tempat umum atau di masjid.


Tauhid Membentuk Pola Hidup

Belajar tauhid bukan hanya sekadar mempelajari:

  • Rububiyyah Allah

  • Uluhiyyah Allah

  • Asma dan sifat Allah

  • Rukun iman

  • Rukun Islam

Lebih dari itu, tauhid harus tercermin dalam kehidupan sehari-hari.

Nilai-nilai tauhid harus menjadi bagian dari cara kita berpikir, bersikap, dan bertindak.

Walaupun kita tidak sempurna dan sering melakukan kesalahan, kita tetap harus berusaha untuk terus memperbaiki diri.

Allah memerintahkan kita untuk terus berusaha dan memohon pertolongan kepada-Nya.


Melanjutkan Pembahasan Materi

Baik, setelah pembukaan ini kita kembali ke pembahasan sebelumnya.

Pada pertemuan sebelumnya kita telah membahas dalil-dalil tentang 25 nabi dan rasul yang disebutkan dalam Al-Qur’an.

Saya melihat teman-teman sudah mencari ayat-ayatnya dan bahkan banyak yang menyimpannya dengan cara screenshot.

Namun sebenarnya akan lebih baik jika ditulis. Dengan menulis kita bisa lebih memahami di mana saja Allah menyebutkan kisah para nabi dalam Al-Qur’an.

Misalnya:

  • Nabi Adam disebutkan dalam beberapa surat.

  • Nabi Idris disebutkan dalam surat tertentu.

  • Nabi Ya’qub disebutkan dalam beberapa ayat.

Hal ini membantu kita memahami Al-Qur’an dengan lebih baik.


Dalil Nabi Ilyas dan Nabi Ilyasa

Salah satu yang ditanyakan adalah dalil tentang Nabi Ilyas dan Nabi Ilyasa.

Dalilnya terdapat dalam Surah Al-An’am ayat 85:

وَزَكَرِيَّا وَيَحْيَى وَعِيسَى وَإِلْيَاسَ ۖ كُلٌّ مِّنَ الصَّالِحِينَ

Artinya:

“Dan (Kami juga telah memberi petunjuk kepada) Zakaria, Yahya, Isa, dan Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang saleh.”

Ayat ini menjadi salah satu dalil yang menyebutkan nama para nabi yang diutus oleh Allah.

 ----- 

Penjelasan Guru tentang Rukun Iman ke-4 (Iman kepada Para Rasul)

Setelah menyampaikan pengantar tentang tauhid dan pentingnya menjadikan seluruh aktivitas sebagai ibadah, ustazah kemudian kembali kepada materi inti yang sedang dipelajari dalam kelas, yaitu Rukun Iman ke-4: beriman kepada para rasul Allah.

Beliau mengingatkan bahwa pada pertemuan sebelumnya para peserta telah diminta untuk mencari dalil Al-Qur’an yang menyebutkan nama-nama nabi dan rasul.

Tujuan tugas tersebut bukan sekadar mengetahui nama para nabi, tetapi agar para peserta:

  • terbiasa mencari dalil langsung dari Al-Qur’an,

  • mengetahui di surat dan ayat mana Allah menyebutkan para nabi,

  • serta menguatkan hafalan dan pemahaman terhadap dalil Al-Qur’an.

Karena itu beliau mengatakan bahwa sebaiknya ayat-ayat tersebut ditulis, bukan hanya discreenshot. Menulis dianggap lebih membantu untuk mengingat dan memahami isi ayat.


Contoh yang Dibahas di Kelas

Ketika mengecek hasil tugas para peserta, ustazah kemudian menanyakan tentang Nabi Ilyas dan Nabi Ilyasa.

Salah satu peserta menyebutkan bahwa dalil yang menyebut nama nabi tersebut terdapat dalam Surah Al-An’am ayat 85.

Kemudian dibacakan ayatnya:

وَزَكَرِيَّا وَيَحْيَى وَعِيسَى وَإِلْيَاسَ ۖ كُلٌّ مِّنَ الصَّالِحِينَ

Artinya secara umum:

“Dan (Kami beri petunjuk pula kepada) Zakaria, Yahya, Isa, dan Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang saleh.”


Penjelasan dari Ustazah

Dari ayat tersebut, ustazah menjelaskan beberapa hal penting:

1. Al-Qur’an Menyebutkan Nama Para Nabi Secara Langsung

Ayat ini menjadi dalil bahwa Nabi Ilyas adalah salah satu nabi yang disebutkan di dalam Al-Qur’an.

Di dalam ayat tersebut Allah menyebut beberapa nabi sekaligus, yaitu:

  • Nabi Zakaria

  • Nabi Yahya

  • Nabi Isa

  • Nabi Ilyas

Ini menunjukkan bahwa para nabi tersebut adalah orang-orang pilihan yang diberi petunjuk oleh Allah.


2. Para Nabi Adalah Orang-orang Saleh

Di akhir ayat Allah menyebutkan:

كُلٌّ مِّنَ الصَّالِحِينَ

Artinya:
“Semua mereka termasuk orang-orang yang saleh.”

Ustazah menekankan bahwa para nabi adalah:

  • manusia pilihan,

  • memiliki akhlak yang sangat mulia,

  • dan menjadi teladan bagi umat manusia.

Karena itu kita diperintahkan untuk beriman kepada mereka dan menghormati mereka.


3. Pentingnya Mengenal Para Nabi

Dalam pembahasan ini ustazah juga mengingatkan bahwa mengenal para nabi merupakan bagian dari iman kepada rasul.

Tidak cukup hanya mengatakan “saya beriman kepada rasul”, tetapi juga perlu:

  • mengetahui nama-nama nabi yang disebutkan dalam Al-Qur’an,

  • mengetahui kisah mereka secara umum,

  • serta memahami perjuangan mereka dalam menyampaikan tauhid.


4. Latihan Mencari Dalil

Ustazah sengaja meminta peserta mencari ayat sendiri agar mereka terbiasa:

  • membuka mushaf,

  • menelusuri ayat,

  • dan memahami bahwa agama ini memiliki dalil yang jelas dari Al-Qur’an.

Beliau juga menegaskan bahwa menulis ayat akan membantu untuk:

  • mengingat lebih kuat,

  • mengetahui lokasi ayat dalam Al-Qur’an,

  • serta memudahkan ketika ingin mempelajarinya kembali.

 

0 Comments