Ustadzah membuka majelis dengan muqodimah dan do'a-do'a
ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِى هَدَىٰنَا لِهَٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِىَ لَوْلَآ أَنْ هَدَىٰنَا ٱللَّهُ
“Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (kebaikan) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk.”
Doa agar dimudahkan berdzikir
اللَّهُمَّ أَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
[Ya Allah, tolonglah aku agar selalu berdzikir/mengingat-Mu, bersyukur pada-Mu, dan memperbagus ibadah pada-Mu].”
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ
وَتُبْ عَلَيْنَآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُ
Robbana taqobbal minna, innaka antas-sami’ul-‘alim. Wa tub ‘alaina, innaka antat-tawwabur-roḥim.
"Wahai Rabb kami terimalah amalan dari kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dan terimalah tobat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang"
Do’a dimudahkan segala urusan
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي
‘Robbis rohlii shodrii, wa yassirlii amrii, wahlul ‘uqdatam mil lisaani yafqohu qoulii’
[Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku” (QS. Thoha: 25-28)
Alhamdulillah kita diberikan nikmat hidayah, nikmat iman bisa menyembah Allah, ini merupakan nikmat yang luar biasa. Semoga Allah berikan kita hidayah nikmat iman untuk menyembah Rabb Allah azza wa jalla sampai Allah wafatkan kita.
📚 Surat An-Naba’
surat an-Naba’ yaitu surat ke 78. Terdiri dari 40 ayat. Makna an Naba adalah berita besar.
Allah Subhanallahu wata’ala berfirman :
▪️Ayat 1
عَمَّ يَتَسَاءَلُونَ
“Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya?”
Ayat ini turun sebagai bantahan terhadap orang-orang musyrikin, yang mengakui adanya Allah Subhanallahu wata’ala namun mereka mengingkari adanya hari kiamat.
Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:
▪️ Ayat 2
عَنِ النَّبَإِ الْعَظِيمِ
“mereka bertanya tentang berita yang besar.”
Para ahli tafsir masa salaf memiliki 3 pendapat tentang makna firman Allah Subhanallahu wata’ala النَّبَإِ الْعَظِيمِ “tentang berita yang besar”
Pendapat Makna النَّبَإِ الْعَظِيمِ adalah kerasulan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka sangat mengingkari kenabian Muhammad. Meskipun mereka mengenal dan menggelari Nabi sebagai al-Amiin (orang yang sangat amanah dan terpercaya), akan tetapi mereka kaget dan tidak menduga bahwa Muhammad akan menyatakan bahwa dirinya adalah utusan Allah.
Lalu ada yang mengatakan النَّبَإِ الْعَظِيمِ makna mereka perselisihkan dan ingkari adalah Al-Qur’an al-Karim, karena Al–Quran adalah berita yang agung
Pendapat ketiga dari para salaf bahwa yang
mereka ingkari dan mereka perdebatkan adalah hari kiamat atau hari kebangkitan setelah kematian. Kaum musyrikin mengingkari bahwa orang yang telah meninggal dunia akan dibangkitkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala
pendapat yang lebih kuat adalah pendapat yang dimakskud dengan النَّبَإِ الْعَظِيمِ “berita yang besar” adalah berita dahsyat tentang hari kebangkitan pada hari kiamat. Ini merupakan Pendapat Ibnu Jarir At-Thabari
orang-orang musyrikin mengakui adanya Allah Subhanallahu wata’ala, hanya saja mereka mengingkari adanya hari kebangkitan.
▪️ Ayat 3
الَّذِي هُمْ فِيهِ مُخْتَلِفُونَ
“yang mereka perselisihkan tentang hal ini”
Diantara mereka (penduduk kota Mekah) terjadi perdebatan tentang suatu berita besar yang membuat mereka berselisih. Ada yang sekedar menyangka akan adanya hari kebangkitan namun tidak meyakini, ada yang meyakini akan adanya hari kebangkitan mereka itulah kaum muslimin, ada pula yang benar-benar mengingkari akan adanya hari kebangkitan yaitu dari kaum musyrikin arab.
Mereka berpendapat bagaimana bisa manusia yang sudah meninggal dunia kemudian menjadi tulang belulang, lalu lumat bercampur dengan tanah yang terkadang tidak bisa dibedakan mana tulang mana tanah saking hancurnya, kemudian dibangkitkan kembali oleh Allah Subhanallahu wata’ala?

0 Comments