ANAK PANAH BERACUN


🔖 KAJIAN SABTU PAGI
|  Sabtu, 11 November 2023
|  Jam 05.30 WIB

| ANAK PANAH BERACUN 
| Serial Nasehat Untuk Muslimah
| Ustadzah Imroatul Azizah Hafizahallah 

Alhamdulillaahil-ladzii bini'matihi tatimmush-shoolihaat, bersyukur kita kepada Allah diberikan nikmat aman, nikmat adanya makanan yang bisa kita makan untuk hari ini, diberikan jasad yang sehat. Jika Tiga Nikmat Ini Terkumpul pada Diri Anda di Pagi Hari maka seakan-akan dunia telah terkumpul pada dirinya. Dari ’Ubaidillah bin Mihshan Al Anshary dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِى سِرْبِهِ مُعَافًى فِى جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

“Barangsiapa di antara kalian mendapatkan rasa aman di rumahnya (pada diri, keluarga dan masyarakatnya), diberikan kesehatan badan, dan memiliki makanan pokok pada hari itu di rumahnya, maka seakan-akan dunia telah terkumpul pada dirinya.” (HR. Tirmidzi no. 2346, Ibnu Majah no. 4141. Abu ’Isa mengatakan bahwa hadits ini hasan ghorib).

Jika kita memahami hadist ini maka kita akan dijauhkan rasa sedih, gelisah, diberikan hari ini rasa aman, jasad yang sehat, dan memiliki makanan ini adalah nikmat. Bersyukurlah untuk hari ini, hari esok belum tentu akan kita jumpai. Semoga Allah berikan kita sifat qonaah. Terus bersyukur atas setiap nikmat yang Allah berikan. 

📚 Tema : "Anak Panah Beracun"

📍Tanya Jawab Bagian Keenam : 
Apakah boleh seorang wanita ia melihat dari balik hijabnya kepada laki-laki yang bukan mahram?

↪️ Jawab: 
Mari kita taddaburi surah An Nur, karena disana banyak hukum yang Allah sampaikan terkait wanita. Allah Ta'ala berfirman diddalam Al-Qur’an Perintah untuk Menundukkan Pandangan :

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

”Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, ’Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.’” (QS. An-Nur [24] : 30).

Didalam surah An Nur, Allah perintahkan untuk menundukan pandangan. Allah melarang memandang laki-laki yang bukan mahram. Ketauhilah mata dan anggota tubuhnya lainnya akan Allah mintai pertanggungjawaban. 

Imam ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan awal mula maksiat dari memandang. Dari pandangan akan muncul maksiat, dan setiap maksiat pasti memiliki efek. 

Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِى قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ وَهُوَ الرَّانُ الَّذِى ذَكَرَ اللَّهُ ( كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ) »

Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam. Apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan. Apabila ia kembali (berbuat maksiat), maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang diistilahkan “ar raan” yang Allah sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka’.”


Ibnu Qayyim Al Jauziyah rahimahullah mengatakan, “Jika dosa semakin bertambah, maka itu akan menutupi hati pemiliknya. Sebagaimana sebagian salaf mengatakan mengenai surat Al Muthoffifin ayat 14, “Yang dimaksud adalah dosa yang menumpuk di atas dosa.”

Inilah di antara dampak bahaya maksiat bagi hati. Setiap maksiat membuat hati tertutup noda hitam dan lama kelamaan hati tersebut jadi tertutup. Jika hati itu tertutup, apakah mampu ia menerima seberkas cahaya kebenaran? Sungguh sangat tidak mungkin. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Jika hati sudah semakin gelap, maka amat sulit untuk mengenal petunjuk kebenaran.”

Maka penting pula kita mengetahui siapa mahrom kita. Agar kita tidak terjerembab pada maksiat.

Allah melanjutkan firman-Nya 

وَلَا يُبۡدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوۡ ءَابَآئِهِنَّ أَوۡ ءَابَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوۡ أَبۡنَآئِهِنَّ أَوۡ أَبۡنَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوۡ إِخۡوَٰنِهِنَّ أَوۡ بَنِيٓ إِخۡوَٰنِهِنَّ أَوۡ بَنِيٓ أَخَوَٰتِهِنَّ أَوۡ نِسَآئِهِنَّ أَوۡ مَا مَلَكَتۡ أَيۡمَٰنُهُنَّ أَوِ ٱلتَّٰبِعِينَ غَيۡرِ أُوْلِي ٱلۡإِرۡبَةِ مِنَ ٱلرِّجَالِ أَوِ ٱلطِّفۡلِ ٱلَّذِينَ لَمۡ يَظۡهَرُواْ عَلَىٰ عَوۡرَٰتِ ٱلنِّسَآءِۖ
“Dan janganlah mereka (para wanita) menampakkan perhiasan mereka kecuali di hadapan suami-suami mereka, ayah-ayah mereka, ayah mertua mereka, di hadapan putra-putra mereka, putra-putra suami mereka, saudara laki-laki mereka, putra-putra saudara laki-laki mereka (keponakan laki-laki), putra-putra saudara perempuan mereka, di hadapan wanita-wanita mereka, budak yang mereka miliki, laki-laki yang tidak punya syahwat terhadap wanita, atau anak laki-laki kecil yang belum mengerti aurat wanita.” (an-Nur: 31)

Perhiasan yang Boleh Ditampakkan di Hadapan Mahram

Suami, ayah, kakek dan seterusnya ke atas, bapak mertua, kakek mertua, dan seterusnya ke atas, anak laki-laki, cucu laki-laki dan seterusnya ke bawah, anak laki-laki suami, cucu laki-laki suami, dan seterusnya ke bawah, saudara laki-laki baik seayah seibu ataupun seayah saja atau seibu saja, keponakan laki-laki, cucu keponakan, dan seterusnya ke bawah, wanita, budak yang dimiliki, laki-laki yang tidak bersyahwat terhadap wanita dan anak kecil merupakan pihak-pihak yang dibolehkan melihat perhiasan seorang wanita dengan batasan yang ditetapkan oleh syariat, sama saja apakah perhiasan itu merupakan bagian dari tubuhnya (asal penciptaannya) atau dari luar dirinya.

Seseorang yang mengumbar pandangan kepada yang bukan mahrom maka ia dalam bahaya. Pandangan itu seperti anak panah. 

Awal petaka ini bisa jadi karena diumbarnya mata dalam memandang yang tidak semestinya, yang tidak halal baginya. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah dalam syairnya:

Setiap bencana berawal dari pandangan mata,

Sebagaimana api yang besar berasal dari percikan bara.

Berapa banyak pandangan sanggup menembus relung hati,

Seperti kekuatan anak panah yang lepas dari busur tali.

Seorang hamba, selama mengumbar pandangannya untuk memandang selainnya,

Maka dia berada dalam bahaya.

Ia menyenangkan mata dengan sesuatu yang membahayakan hatinya,

Maka janganlah menyambut kesenangan yang akan membawa bencana.

Demikianlah bencana yang ditimbulkan oleh pandangan. Ia akan mendapatkan penyesalan, menghadirkan malapetaka, dan membakar nafsu.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda,

“Pandangan merupakan anak panah beracun dari anak-anak panah iblis. Maka barang siapa yang menahan pandangannya dari kecantikan seorang wanita karena Allah, niscaya Allah akan mewariskan rasa manis dalam hatinya sampai hari pertemuan dengan-Nya.” (HR Al-Hakim dalam Al-Mustadrak,V:313; Al-Qudha’i dalam Musnad Asy-Syihab, no. 292; dan Ibnul Jauzi dalam Dzammul Hawa, hlm.13; dari Hudzaifah radhiallahu ‘anhu. Juga diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Al-Kabir, no. 10362 dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu. Diriwayatkan pula oleh Ibnul Jauzi dalam Dzammul Hawa, hlm. 140 dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu).

Jika ada yang mengatakan healing itu dengan cuci mata keluar rumah, maka ini keliru sebab memandang akan menimbulkan maksiat. 

Ketauhilah Cuci matanya orang muslim yaitu dengan membaca dan mentaddaburi Alquran. 

Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah berkata (II/503): “Telah berkata kepadaku Mahmud bin Ghailan, telah bercerita kepada kami Abdurazzaq, ia berkata telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Ibnu Thawus, ia berkata, “Tidaklah aku pernah melihat sesuatu yang lebih serupa dengan al-lamam (dosa kecil) daripada apa yang telah dikatakan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

كُـتِبَ عَلَـى ابْنِ آدَمَ نَصِيْبُـهُ مِنَ الـِزّنَا مُدْرِكٌ ذٰلِكَ لَا مَـحَالَـةَ : فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُـمَـا النَّظَرُ ، وَالْأُذُنَانِ زِنَاهُـمَـا الْاِسْتِمَـاعُ ، وَالـِلّسَانُ زِنَاهُ الْـكَلَامُ ، وَالْيَـدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ ، وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْـخُطَى ، وَالْقَلْبُ يَـهْوَى وَيَتَمَنَّى ، وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَ يُـكَـذِّبُـهُ

“Telah ditentukan atas anak Adam (manusia) bagian zinanya yang tidak dapat dihindarinya : Zina kedua mata adalah melihat, zina kedua telinga adalah mendengar, zina lisan adalah berbicara, zina tangan adalah dengan meraba atau memegang (wanita yang bukan mahram, Pen.), zina kaki adalah melangkah, dan zina hati adalah menginginkan dan berangan-angan, lalu semua itu dibenarkan (direalisasikan) atau didustakan (tidak direalisasikan) oleh kemaluannya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Dalam lafazh lain yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللّٰـهَ كَـتَبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ حَظَّهُ مِنَ الزِّنَا ، أَدْرَكَ ذَلِكَ لَا مَـحَالَـةَ: فَزِنَا الْعَيـْنِ: النَّظَرُ ، وَزِنَا اللّـِسَانِ: الْـمَنْطِـقُ ، وَالنَّـفْسُ تَـمَنَّى وَتَشْتَهِيْ ، وَالْفَـرْجُ يُصَدِّقُ ذلِكَ كُلَّـهُ وَيُـكَذِّبُـهُ.

“Allah telah menulis atas anak Adam bagiannya dari zina, maka pasti dia menemuinya: Zina kedua matanya adalah memandang, zina lisannya adalah perkataan, zina hatinya adalah berharap dan berangan-angan. Dan itu semua dibenarkan dan didustakan oleh kemaluannya.” (HR. al-Bukhari, Muslim, dan Ahmad).

Ingatkan anak perempuan kita, jangan sampai mereka chat an dengan laki-laki yang bukan mahrom, maka peran orangtua harus hadir dalam mendidik anak.

Ketahuilah pintu-pintu perzinahaan itu sangat banyak terlebih dizaman sekarang. Maka jagalah anak-anak kita jangan sampai terjerembab ke dalam pintu-pintu tersebut. 


Setiap kejadian awal mulanya dari pandangan. Ketika seseorang meremehkan hal ini maka ia akan tergelincir pada sebuah dosa. 

Sungguh hikmah besar, Allah perintahkan wanita untuk tetap tinggal dirumah. Wanita yang banyak tinggal dirumah akan lebih banyak menunaikan hak Allah, hak suaminya, hak anak-anaknya. Wanita yang beriman yang ia mentaati Allah maka ia akan betah tinggal dirumah nya. Boleh keluar rumah jika ada keperluan. 

Di antara perintah Allah kepada wanita muslimah adalah perintah untuk tinggal dan menetap di rumah-rumah mereka. Sebuah perintah yang banyak mengandung hikmah dan maslahat. Renungkanlah firman dari Rabbmu yang paling tahu tentang kemaslahatan bagimu. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيراً

“Dan hendaklah kamu tetap tinggal di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu. Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlul bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (Al Ahzab: 33).

Para shahabiyah mereka senantiasa menundukan pandangan. Maka perhatikan hal ini ya akhwat, jangan katakan tidak mengapa melihat ustadz yang sedang menyampaikan ilmu ketauhilah Hati manusia berbolak balik. Awal mula maksiat yaitu dari pandangan.

Para ulama telah sepakat sebagaimana An-Nawawi telah menukilkan dari mereka di dalam Syarah Muslim, bahwa memandang kepada laki-laki apabila dengan syahwat maka hukumnya haram. Sebagian ulama membolehkan memandang lelaki secara mutlak. Mereka berdalil dengan kisahnya Aisyah bahwa ia pernah melihat orang-orang Habsyi yang sedang bermain sampai jenuh, lalu Nabi bersabda, “Sudah cukup?” Aku (Aisyah) berkata, “Ya.” Lalu Beliau berkata, “Pergilah.”

Imam An-Nawawi menjawab tentang hadits ini, “Bisa dimungkinkan hal itu terjadi sebelum balighnya Aisyah.” Al-Hafizh berkata, “Dan telah dibantah dengan ucapannya ‘Bahwa beliau menutupiku dengan surabnnya’ yang menunjukkan bahwa hal itu terjadi setelah turunnya ayat hijab.” Dan An-Nawawi berkata, “Atau bisa jadi dimungkinkan bahwasanya ia memandang pada permainan tombak mereka bukan pada wajah dan badan mereka dan jika terjadi tanpa disengaja amat dimungkinkan ia akan mengalihkan pandangannya pada keadaan itu.” (Al-Fath, 2/445).

Sabda Nabi sallallahu’alaihi wa sallam:

يَا عَلِيُّ لا تُتْبِعْ النَّظْرَةَ النَّظْرَةَ فَإِنَّ لَكَ الأُولَى وَلَيْسَتْ لَكَ الآخِرَةُ (رواه الترمذي، رقم 2701 وهو في صحيح الجامع، رقم (7953

“Wahai Ali, jangan ikuti pandangan (pertama) dengan pandangan (berikutnya), karena pandangan pertama milik anda (tidak berdosa) sedangkan pandangan berikutnya bukan milik anda (berdosa)." (HR. Tirmizi, no. 2701 dan dia ada dalam Shahih Al-Jami. no. 7953).

Dalam kitab ‘At-Tuhfah, ungkapan (لا تتبع النظرة النظرة /jangan mengikuti pandangan (pertama) dengan pandangan (kedua). Maksudnya jangan dilanjutkan setelahnya dan jangan jadikan pandangan lain (kedua) setelah (pandangan) pertama. “Karena untukmu yang pertama” maksudnya pandangan permata tidak berdosa kalau itu tanpa sengaja, dan “Yang kedua bukan untukmu” maksudnya pandangan berikutnya berdosa, karena itu berarti dilakukan dengan sengaja sehingga dia berdosa karenanya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, 

“Janganlah kamu mengikutkan pandangan dengan pandangan berikutnya. Sebab hanya pandangan pertama saja yang dibolehkan bagimu, tidak untuk pandangan setelahnya.”

(HR Abu Daud, no. 2149; At-Tirmidzi, no. 2777; Ahmad, V:353 dan V:357; dan Baihaqi, VII:90; dari Buraidah)

Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah menjelaskan, 

”Pandangan merupakan pangkal bencana yang menimpa manusia. Sesungguhnya pandangan akan melahirkan lintasan dalam hati. Kemudian lintasan hati akan melahirkan pikiran. Pikiran akan melahirkan syahwat. Syahwat membangkitkan keinginan. Kemudian keinginan itu menjadi kuat, dan berubah menjadi tekad yang bulat. Maka apa yang tadinya melintas dalam pikiran menjadi kenyataan, dan itu pasti akan terjadi selama tidak ada yang menghalanginya. Maka sungguh bagus suatu nasihat: kesabaran dalam menundukkan pandangan masih lebih ringan daripada kesabaran dalam menanggung beban sakit setelahnya.”

Orang-orang yang menjaga pandangan maka Allah akan selamatkan dirinya, dan orang-orang yang tidak menjaga pandangan maka ia akan terjerumus pada dosa maksiat. 

Semoga Allah Yang Maha Penyayang membimbing kita untuk senantiasa menjaga pandangan agar selamat didunia dan akhirat. 

Aamiin
 📝 Wellin Zarlin Hafizahallah 

0 Comments