Al Khulasoh Al Asasiyyah Fii Masaail Al I’tiqodiyyah - P17


Aqidah 10.02.25
Pelajaran ke 3 Rukun Iman
Mukadimah 
Ustadzah Zahratul Aini Hafizahallah mengatakan adab didalam majelis ilmu sangat mempengaruhi keberkahan ilmu dari seorang penuntut ilmu.

Salah satu indikator bahwa ilmu itu berkah adalah bahwa ilmu itu bisa kita amalkan. Namun jangan kita ukur Orang lain, ukurlah diri kita sendiri. Tanyakan pada diri sudahkah ilmu yang kita dapatkan di kelas aqidah mendapatkan keberkahan dari waktu yang sengaja saya luangkan, sengaja saya kosongkan, ataukah saya hanya membunuh waktu/ sekedar yang penting masuk? Yang tahu adalah Allah serta diri kita sendiri. Takarlah diri kita sendiri. Kenapa kita boleh melakukan gal tersebut? Karena itu adalah tugas Allah ta'ala sebagai Tuhan, kita hanya hamba. 

Adab di dalam majelis ilmu sangat berpengaruh bagi seorang penuntut ilmu terhadap keberkahan Ilmu.

Imam Al-Khatib al-Baghdadi rahimahullah mengatakan, "Ilmu tanpa adab adalah bencana bagi pemiliknya."

Ibnu Jama'ah dalam kitabnya Tadzkiratus Sami' wal Mutakallim, "Salah satu di antara sebab seseorang memperoleh ilmu yang bermanfaat adalah adab yang tinggi terhadap gurunya. Barangsiapa yang kurang adab maka ia akan terhalang dari ilmu dan keberkahannya."

Kenapa kita mengutip perkataan para Ulama? Karena mereka ini telah wafat tetapi keberkahan ilmu mereka masih sampai kepada kita. Kita mencontoh bagaimana para ulama ini belajar hingga ilmunya diberkahi, Allah pertahankan ilmu di diri mereka hingga mereka wafatpun masih bermanfaat untuk kita.

Pesan Ustadzah hafizahallah bahwa ketika kita akan menghadiri majelis ilmu bersikaplah seolah-olah kita akan. Bertemu idola kita. Berpakaian indah, rapi suda berwudhu. 

Pelajaran ketiga: Iman (hal31)
10 Februari 2025

🌸Beriman kepada Allah.  

#Apa itu iman? 
Iman secara bahasa: attasdiqu= membenarkan, mempercayai
Iman secara Istilah syar'i: (dari kitab syarah ushul atsalasah karya syaikh Muhammad bin Salim alutsaimin) meyakini dengan hati dan diucapkan dengan lisan dan mengamalkan dengan anggota badan.  

Percaya saja tidak sama dengan iman. Karena iman harus memuat tiga komponen yaitu meyakini dengan hati dan diucapkan dengan lisan dan mengamalkan dengan anggota badan.

Contoh 
📝Meyakini dengan hati: meyakini Allah rabbul alamin. 
Dalilnya: 
QS Al-Fatihah : 2

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَـٰلَمِينَ

al-ḥamdu lillāhi rabbil-'ālamīn

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.
●QS Al-An'am : 164

قُلْ أَغَيْرَ ٱللَّهِ أَبْغِى رَبًّا وَهُوَ رَبُّ كُلِّ شَىْءٍ  ۚ  وَلَا تَكْسِبُ كُلُّ نَفْسٍ إِلَّا عَلَيْهَا  ۚ  وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ  ۚ  ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّكُم مَّرْجِعُكُمْ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

qul a gairallāhi abgī rabbaw wa huwa rabbu kulli syaī`, wa lā taksibu kullu nafsin illā 'alaihā, wa lā taziru wāziratuw wizra ukhrā, ṡumma ilā rabbikum marji'ukum fa yunabbi`ukum bimā kuntum fīhi takhtalifụn

Katakanlah (Muhammad), "Apakah (patut) aku mencari tuhan selain Allah, padahal Dialah Tuhan bagi segala sesuatu. Setiap perbuatan dosa seseorang, dirinya sendiri yang bertanggung jawab. Dan seseorang tidak akan memikul beban dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitahukan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan."

📝Berucap dengan lisan bahwa allah adalah Rabbku

📝 Mengamalkan dengan anggota badan, bentuknya adalah ibadah

#Apakah iman itu bertambah da berkurang? Dan apa dalilmu?

Iya, iman itu bertambah dan berkurang. Dalilnya:QS Al-Anfal : 2

إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ ءَايَـٰتُهُۥ زَادَتْهُمْ إِيمَـٰنًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal, 

Sifat orang beriman jika disebutkan nama Allah gemetar hatinya karena mereka takut akan azab Allah. Mengerjakan perintah Allah dan meninggalkan larangannya. 

QS An-Nazi'at : 40

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ وَنَهَى ٱلنَّفْسَ عَنِ ٱلْهَوَىٰ

wa ammā man khāfa maqāma rabbihī wa nahan-nafsa 'anil-hawā

Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya,
QS An-Nazi'at : 41

فَإِنَّ ٱلْجَنَّةَ هِىَ ٱلْمَأْوَىٰ

fa innal-jannata hiyal-ma`wā

maka sungguh, surgalah tempat tinggal(nya).

‘Abdul Muththalib kakek Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, pernah menunjukkan satu pelajaran pada kita untuk tawakkal, saat Raja Abrahah ingin menyerang Ka’bah.

Pada zaman ‘Abdul Muththalib bin Hasyim, peristiwa pasukan gajah terjadi dan bertepatan dengan tahun kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ringkasan kisahnya adalah Abrahah yang menjabat sebagai Wakil Raja Habasyah yang berkedudukan di Yaman. Abrahah menyaksikan orang Arab berbondong-bondong datang ke Mekkah setiap tahun untuk menunaikan ibadah haji, maka kemudian dia membangun sebuah gereja besar dan mewah di Yaman, lalu dinamakan Al-Qulais. Dia bermaksud mengalihkan tujuan orang-orang Arab yang setiap tahun bepergian ke Mekkah menunaikan ibadah haji untuk menuju ke gereja megah yang dibangun di Yaman.

Lalu kejadian tersebut sampai ke telinga seorang laki-lakoi dari Bani Kinanah. Dia melakukan perjalanan menuju gereja tersebut dan memasukinya pada suatu malam, kemudian melumuri dinding-dindingnya dengan kotoran. Abrahah yang mendengar berita tersebut akhirnya marah besar dan memutuskan untuk menghancurkan Ka’bah.

Abrahah lalu memimpin langsung pasukan tentara yang berjumlah 60.000 dengan fasilitas pasukan yang dilengkapi dengan beberapa ekor gajah. Mereka berjalan menuju tujuan dan tidak ada sesuatu pun yang menghadangnya hingga tiba di sebuah tempat yang bernama Al-Mughammas (24 km dari kota Makkah).

Di tempat itulah, mereka mengambil harta milik orang-orang Quraisy termasuk 200 ekor unta milik ‘Abdul Muththalib. Lantas ‘Abdul Muththalib datang menemui Abrahah. Begitu Abrahah melihat ‘Abdul Muththalib, ia menghormati dan memuliakannya. Abrahah lantas bertanya maksud kedatangan ‘Abdul Muththalib, lalu ia jawab, “Maksud saya mendatangimu adalah memohon pada Raja untuk mengembalikan untak-unta milikku yang ditawan.”

Abrahah berkata, “Semula saya kagum kepadamu ketika melihat kedatanganmu, kemudian saya tidak lagi menghargaimu setelah kamu berbicara kepadaku. Apakah kamu hanya memikirkan untamu dan sama sekali tidak memikirkan Ka’bah yang merupakan agamamu dan agama leluhurmu, padahal kedatanganku kemari adalah untuk menghancurkannya?”

‘Abdul Muththalib berkata, “Saya adalah pemilik unta-unta itu. Adapun Ka’bah, maka Pemiliknya yang akan menjaganya.”

Abrahah berkata, “Tidak akan ada yang mampu mencegah saya.”

‘Abdul Muththalib berkata, “Itu urusan kamu dan Pemiliknya (maksud Pemilik Ka’bah adalah Allah Ta’ala).” (Ibnu Hisyam, As-Sirah An-Nabawiyah, 1: 43 dan halaman setelahnya).


Faedah yang bisa diambil:
Walaupun ‘Abdul Muththalib seorang musyrik, ia mengajarkan pada kita untuk bergantung pada Allah (tawakkal) dan yakin akan datangnya pertolongan dari Allah. Padahal ia adalah seorang musyrik karena masih menduakan (menyekutukan) Allah dalam ibadah.

Tauhid Rububiyyah tidak cukup menjadikan kita orang yang bertauhid. 

# Dengan apa iman itu bertambah dan dengan apa ia berkurang?

📝Iman itu bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. 

❓️❓️Apa itu taat dan apa itu takwa kepada Allah?
Menurut Thalaq bin Habib Rahimahullahu 
Takwa itu adalah engkau melakukan ketaatan kepada Allah berdasarkan cahaya dari Allah. Karena mengharap pahala dariNya dan engkau meninggalkan segala bentuk kemaksiatan kepadaNya berdasarkan cahaya dariNya karena takut terhadap siksa dariNya. 
Cahaya=ilmu

Taat: tunduk, patuh setia pada aturan. Atau dengan kata lain taat itu bagian dari takwa





0 Comments